Wednesday, January 29, 2014

Rangkaian Ibadah Umroh


Awalnya saya mengira ibadah umroh memang lamanya selama sembilan hari, tetapi saya baru tahu saat saya menjalaninya sendiri. Ibadah umroh sebenarnya bisa dilakukan selama satu hari saja. Bahkan, penduduk setempat atau penduduk sekitar Mekkah bisa menjalankan rangkaian ibadah umroh pada longweekend saja.
Perjalanan umroh dimulai dengan berniat. Niat ini dilakukan di miqat yang merupakan batas tempat di mana kita diwajibkan melakukan rukun umroh dan tidak boleh melakukan larangannya. Jadi, penduduk yang tinggal di dalam kawasan tanah Haram harus keluar dahulu melewati batas tanah Haram untuk mengambil miqat. Pada umumnya penduduk Indonesia menjalankan ibadah umroh diawali dengan mengunjungi Madinah sehingga miqat yang diambil adalah masjid Bir Ali. 

Meninggalkan Madinah menuju Masjid Bir Ali


Perjalanan dari Madinah menuju masjid Bir Ali ditempuh dalam waktu sekitar 25 menit menggunakan bus. Dalam perjalanan tersebut, jamaah wanita sudah memakai pakaian umroh yang berwarna putih. Sedangkan jamaah laki-laki belum memakai pakaian ihram (ganti pakaian di masjid Bir Ali). 

Halaman Masjid Bir Ali

Halaman Masjid Bir Ali

Si Om yang narsis abis
 
Di masjid ini kami melaksanakan shalat dua rakaat sebelum umroh kemudian berniat untuk umroh (membaca lafadz niat umroh). Selama menjalankan rangkaian ibadah umroh, jamaah wanita harus menutup aurat seperti ketika shalat, termasuk kaki dan pergelangan tangan. Sebaiknya pilih pakaian yang sempurna menutup pergelangan tangan. Selain itu, jamaah wanita dari Indonesia biasanya menggunakan sarung tangan umroh. Saya pernah ditanya oleh jamaah dari Malaysia perihal sarung tangan ini ketika bertemu di lift hotel di Madinah. Dia menebak saya dari Indonesia, karena melihat sarung tangan yang saya pakai, katanya ini khas Indonesia.

Si Om dan Ibu setelah berniat umroh di Masjid Bir Ali

Umroh dimulai!

Sejak berniat di masjid Bir Ali, maka sejak itu larangan yang berlaku selama ibadah umroh mulai berlaku: memakai wangi-wangian, berbuat fasik, berkata-kata yang tidak baik, merusak tanaman, dan sebagainya.
Pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Mekkah yang ditempuh dalam waktu sekitar enam jam. Jalanan menuju Mekkah (dan jalan yang menghubungkan antar kota di Arab) seperti jalan tol di Indonesia, lebar dan panjang serta dilengkapi dengan rambu-rambu petunjuk arah. Bedanya, di Arab tidak ada kemacetan antar kota kecuali jika musim haji, itu pun hanya antara Mekkah dan Madinah.

Menjelang pukul enam sore kami beristirahat di kawasan seperti rest area di jalan tol untuk sekedar minum dan mengisi perut sejenak. Ada yang unik ketika kami berhenti di sini. Kami menemukan Indomie dalam gelas seperti Pop mie. Saya memesannya seharga 5 SAR ditambah teh seharga 3 SAR. Rasanya mirip Indomie yang dijual di Indonesia karena bumbunya saja bertuliskan bahasa Indonesia hihi 


Rehat sebentar

Kami melanjutkan perjalanan sampai tiba di kota Mekkah pukul 20.30. Kami sampai di tanah Haram(!). Perasaan merinding lebih kuat ketika saya baru sampai di Madinah. Mungkin saya tidak teralu merasakan perbedaan karena saya sudah merasakan suasana tanah Arab dari Madinah. Ditambah lagi rasa letih sudah terkumpul sejak hari pertama kami di Madinah.


Sampai di hotel sudah lelah :(

Lobi hotel

Setelah kami mendapat kamar di hotel, rangkaian ibadah umroh pun dilanjutkan (bahkan mungkin baru dimulai hehe). Kami dibimbing menuju Masjidil Haram. Jarak hotel dengan Masjidil Haram hanya sekitar 300 meter berjalan kaki. Kami akan melaksanakan shalat Magrib dan Isya dengan jamak takhir. 

Sesaat sebelum masuk ke Masjidil Haram, muthawaif mengumpulkan kami untuk memberikan penjelasan. Seperti biasa, kami disarankan untuk mengingat pintu masuk masjid dan memberi petunjuk arah untuk pulang ke hotel. Pintu terdekat dari hotel kami adalah pintu nomor 1 yang dinamakan King Abdul Aziz Gate. Pintu ini berhadapan dengan Zam-zam Tower, hotel terkenal dengan jam besar di atasnya yang menyala dan mengeluarkan suara adzan setiap waktu shalat.

Kami pun masuk ke Masjidil Haram sambil menyapu pemandangan di depan mata mencari di mana letak Ka’bah. Saya sedikit nervous, benarkah seperti kata orang-orang jika melihat Ka’bah akan menangis?
Sepertinya saya tidak demikian. Mencari letak Ka’bah dalam pandangan mata perlu sedikit jeli karena saat ini sedang dibangun lintasan di sekeliling Ka’bah (dua lantai di atas lantai dasar) untuk perluasan area thawaf. Jadi jangan dibayangkan kita akan mendapatkan pemandangan Ka’bah yang terlihat jelas di antara lautan manusia seperti dalam lukisan atau sajadah jaman kakek-nenek kita.

Kami mencari tempat shalat yang agak luas untuk berjamaah satu rombongan di basement. Masjidil Haram memiliki tempat shalat yang sangaaaaaat luas tetapi terdiri dari banyak ruang dan beberapa lapisan. Tempat shalat untuk jamaah perempuan dan laki-laki biasanya berselang seling, tidak dibagi dua seperti di Masjid Nabawi. Kebayang kan kalo di masjid seluas kurang lebih 656.000 km2 jamaah yang merupakan suami istri harus terpisah demikian jauhnya karena tempat shalat dibagi dua saja.

Jika dibandingkan, hawa dingin di Masjid Nabawi lebih karena AC sedangkan di Masjidil Haram hawa dingin lebih cenderung karena kipas angin, meskipun ada AC juga. Mungkin karena bangunan Masjidil Haram yang bertingkat dan cenderung lebih rendah atapnya sehingga kipas angin di sini sangat kencang untuk ukuran saya. Selanjutnya, rangkaian ibadah umroh dimulai:

No comments:

Post a Comment