Thursday, November 15, 2012

Kereta Punya Cerita

Kereta api selalu menjadi pilihan saya dan beberapa teman untuk pulang kampung. Tetapi tidak semua orang suka naik kereta. Pertimbangannya karena lokasi rumah yang cukup jauh dari stasiun. Belakangan ini kereta jenis ekonomi AC menjadi alternatif bagi saya untuk pulang mudik. Ada sebagian yang tidak suka. Alasannya karena privasi yang kurang. Maklum saja, meskipun dilengkapi dengan AC, karena namanya kelas ekonomi tetap saja penumpang duduk berhadapan.

Bukan berarti saya setuju dengan diskriminasi, tetapi memang terasa sekali ada perbedaan dalam kelas-kelas kereta tersebut. Salah satu perbedaan ini bisa dilihat pada saat kereta akan berangkat dari stasiun. Penumpang kelas eksekutif dan bisnis umumnya lebih tenang saat memasuki kereta. Keadaan ini berbeda dengan penumpang kelas ekonomi yang terlihat panik dan terburu-buru memasuki gerbong kereta. Padahal sekarang ini semua penumpang dengan tiket yang sah dijamin mendapatkan tempat duduk. Saya benar-benar merasakannya ketika menaiki kereta kelas ekonomi. Maklum saja, saya sudah pernah mencicipi tiga kelas kereta tersebut.

Pun ketika kita sudah duduk di dalam kereta. Menurut saya, penumpang kelas eksekutif bisa dibilang paling individualis. Duduk, memasang bantal, memakai selimut, memasang headphone lalu tidur, atau asik dengan gadgetnya sendiri-sendiri, tanpa mengobrol banyak. Penumpang kelas bisnis dan ekonomi tentu saja mau diajak mengobrol lebih banyak dari pada penumpang kelas eksekutif. Dan tentu saja untuk kelas ekonomi, karena tempat duduknya berhadap-hadapan, obrolan dengan sesama penumpang seringkali terasa hangat dan akrab.

Pulang kampung selalu menjadi agenda rutin tiap kali ada angka tercetak dengan tinta merah mendekati weekend. Tak terkecuali semalam. Saya pulang kampung karena hari ini, Kamis 15 November, bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah 1434 H. Saya dan seorang teman memilih kereta kelas ekonomi AC.

Penumpang di depan kami adalah dua orang laki-laki paruh baya. Keduanya berusia 40 dan 50 tahunan. Berawal dari obrolan ringan hanya seputar tempat tujuan, tempat bekerja..maka mengalirlah obrolan panjang.

Mereka (kedua laki-laku itu) sudah sering pulang menggunakan kereta api. Yang satu, sudah hampir dua tahun pulang ke Jogja tiap minggu karena keluarganya di sana. Sedangkan yang satu, sudah 8 tahun pulang ke Jogja sebulan sekali. “Sejak tiket kereta masih 2.500 sampai sekaran jadi 150.000 mbak..”
Satu hal yang paling berkesan dari obrolan tadi malam adalah tentang calo tiket kereta yang tetap masih ada meskipun sistem penjualan online telah diberlakukan. Menurut salah seorang bapak itu, ada beberapa cara calo tiket kereta beroperasi.



Pertama, calo tiket memiliki koneksi kuat dengan “orang dalam” alias karyawan PT KAI. Calo sudah mempunyai jatah tiketnya sendiri. Calon penumpang cukup memberikan nomor identitas yang diperlukan untuk pemesanan. Tiket sesuai nama penumpang siap digunakan.

Kedua, calo tiket memiliki koneksi dengan petugas loket. Calo sudah membeli tiket seperti biasa. Jika ada calon pembeli yang berminat, maka dilakukan perubahan nama penumpang. Hal ini sulit dilakukan oleh orang awam karena petugas selalu berkata bahwa jika tiket sudah dibatalkan, maka tidak ada jaminan bisa didapatkan kembali karena ada banyak orang yang bisa mengakses tiket dengan sistem online. “Tapi kenyataannya masih bisa mbak..” kata bapak itu.

Ketiga, bagi calo yang tidak memiliki koneksi, masih bisa beroperasi, asalkan memiliki modal yang cukup besar. Sistem online memang memudahkan siapa saja untuk memesan tanpa batasan lokasi. Namun, sistem ini juga memberikan keuntungan bagi calo. Calo memesan tiket dalam jumlah banyak sesuai prosedur (tentu saja menggunakan identitas yang benar, jumahnya tergantung besarnya modal si calo). Seketika saya teringat, pernah memesan dua tiket kereta dengan jadwal yang sama menggunakan dua nama yang sama dan sistem bisa menerima. Ternyata memang sistem ini masih ada kelemahan. (Atau memang sengaja dibuat?) Biasanya, calo menyediakan dua jenis tiket, yaitu tiket dengan nama laki-laki dan tiket dengan nama perempuan. Jika calon penumpang laki-laki, maka tiket yang dijual adalah tiket laki-laki. Begitu pula sebaliknya. Saat mendekati jadwal keberangkatan, calo akan melakukan check-in agar tiketnya mendapat stempel “TELAH DIPERIKSA” dari petugas. Bahkan, ada juga yang membuat stempel sendiri  -_-" Setelah itu, tiket bisa diberikan pada calon penumpang dan penumpang dapat masuk dengan leluasa.

Sistem pemesanan tiket online memang mempermudah penumpang mengakses pemesanan tanpa harus menelepon operator dan tanpa mengantri di stasiun. Namun tanpa sistem yang well-developed, tentu saja akan membuka peluang kecurangan.

Tidak dipungkiri, calo tiket kereta api memang masih ada. Namun, hanya yang bermodal besar dan memiliki koneksi kuatlah yang masih mampu bertahan. Harga tiketnya sendiri? Jangan tanya, bisa sampai 4 kali lipat.

Wednesday, November 14, 2012

Cukup

Sebagai anak kampung yang datang ke kota metropolitan macam Jakarta, tentu saya pernah mengalami fase "ndeso". Dari yang gak bisa makan pakai sumpit, ketemu eskalator yang hemat energi (kelihatannya rusak, tapi otomatis akan berjalan ketika kita naik), sampai merasa asing dengan menu-menu makanan yang awalnya aneh bagi saya macam pizza, spaghetti, salad, sushi, dan steak. Kasus yang sama juga terjadi, untuk beberapa merk produk perawatan tubuh, tas, dan sepatu yang baru saya dengar.

Saya, sudah dikontrak jadi PNS sampai masa pensiun di tahun 2042. Dan sampai tahun itu (insya Allah) saya akan terus hidup di kota ini karena stabilnya struktur SDM di kantor tidak memungkinkan mutasi. Jakarta, tentu sedikit banyak mengubah diri saya. Dari yang semula hanya mengenal makanan rumah, warteg jaman kuliah, paling banter makan KFC, itu pun bisa dihitung dengan jari. Sekarang saya (dan tidak hanya saya tentunya) sudah bisa beradaptasi dengan gemerlapnya kehidupan Jakarta. Bayangkan saja, jika ada jamuan makan di restoran yang makanannya seperti yang saya sebut di atas, tentu kita tidak seharusnya menolak, bukan?

Lama-lama saya ketularan. Gaya hidup yang meningkat. Tersadar seketika saat ibu saya berkata dengan santainya, "Dulu masih mau pakai baju harga lima puluh ribu, sekarang ga mau ya.."

Kalimat ibu saya ini selalu menjadi pengingat manakala ada teman, tetangga, atau orang di sekitar saya sibuk membicarakan gadget ini, atau tas merk itu, atau sepatu yang ini, yang terbuat dari kulit, yang mahal, yang bagus, dan sejuta alasan yang menggoda kita untuk membeli.

Cukup itu dari diri sendiri. Kata ibu saya.

Dan ini hadiah-Nya:

“Barang siapa meninggalkan pakaian yang mewah-mewah karena tawadhu kepada Allah, padahal ia mampu membelinya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia sukai untuk dipakainya.” (HR Tirmidzi)