Tuesday, May 22, 2012

The Babies


Saat nyenyak tertidur, saya tiba-tiba terbangun. Malas sekali saya lihat jam dinding kamar. Pukul setengah tiga pagi. Saya sendiri tidak ingat persis apa yang membuat saya terbangun barusan. Kamar saya ada di depan, dan karena letaknya itulah sering terdengar suara kencang (orang mengobrol di jalan, suara motor), dan ini kerap kali membangunkan saya.

Terdengar orang berjalan seperti terburu-buru. Gila, saya pikir. Jam segini sedang enak-enaknya tidur, besok kan mesti bangun pagi berangkat kerja. Saya mau tidur lagi. Kembali saya meringkuk di kasur saya, tutup telinga dengan bantal.

Tetap saja saya tidak bisa tidur nyenyak seperti semula. Ada suara gaduh. Orang berlari ke sana kemari, seperti suasana genting. “Cepetan..udah ke sini aja..” Suara perempuan. Aduhhh..apa siih..
Tak lama kemudian ada yang bilang, “Bayinya udah lahir..” Saya terjaga, tapi masih malas bangun. Terdengar suara tangisan bayi. Tak begitu kencang terdengar dari kamar saya.

“Mba..mba.. keluar satu lagi.. Bayinya dua..” Aduh...kalo sudah begini saya benar-benar ga bisa tidur. Saya keluar kamar. Pintu depan kos kami terbuka lebar. Penghuni kamar depan saya berdiri di depan kamarnya, masih memakai kostum tidurnya. Saya bertanya,

“Siapa yang lahiran?”
“Mba Yeti”
“Hah? Mba Yeti?” Saya kaget.
“Iya, bayinya kembar, cewek-cewek
“Hah?” Saya makin kaget.

Saya menutup pintu. Masih mengingat-ingat rangkaian kejadian barusan. Sambil meyakinkan diri, ini mimpi atau bukan.

Fyi, Mba Yeti itu pembantu pengganti mba Lastri yang pernah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya. Tubuhnya memang gemuk, sudah kelihatan begitu sejak pertama kali datang ke kosan kami. Dia suka minum kopi tiap pagi. Sering saya ingatkan mengurangi kopi, supaya dia tidak sakit lagi seperti beberapa bulan lalu. In additional, kalo dia sakit, maka cucian dan kondisi kosan tidak berjalan seperti biasanya.

Beberapa bulan terakhir perutnya memang terlihat semakin besar. Saya tidak curiga sama sekali. Terutama setelah teman saya berkata bahwa terlalu banyak minum air es dari kulkas bisa bikin perut buncit. Dia mengingatkan mba Yeti untuk meninggalkan kebiasaannya itu, atau minimal menguranginya. Tapi mba Yeti selalu punya alasan untuk tetap melakukannya.

Seringkali saya meledek, “Mba, perutnya tuh..ngalahin orang hamil aja..” Saya bener-bener gak tahu waktu ngomong itu. Pernah juga ditanya, “Mba, hamil yaa..?” (wajar karena dia sudah punya suami). Tapi yang ditanya senyum-senyum saja. Tidak mengkonfirmasi, ataupun menyanggah.

Dan pagi ini akhirnya terungkap sudah. Ternyata perut buncit yang semakin membesar itu berisi bayi. Dan yang tidak kalah mengejutkan juga, sebagian anak kos tahu bahwa mba Yeti sedang hamil. Tapi saya tidak tahu. Terlalu polos untuk mencurigainya.

Semalam mba Yeti masih sempat menyelesaikan setumpuk setrikaan baju anak-anak. Hebat sekali, pikir saya. Selama ini dia mengerjakan tugas-tugas seperti biasanya: mencuci dan menyetrika baju 18 anak, menyapu, mengepel, menguras kamar mandi, ditambah tugas khusus dari saya dan teman saya: memasak sayur untuk makan malam. Dan bodohnya saya, selama ini tidak tahu bahwa dia sedang hamil.

Lalu mengalirlah kronologis cerita tentang persalinannya. Pukul 2 pagi mba Yeti memanggil salah satu anak kos, “Mba Wanda.. Mba Wanda..” Wanda masuk ke kamar mba Yeti. Ana juga ikut masuk karena kamarnya bersebelahan. Ana memanggil tetangga sekitar sedangkan Wanda mengawasi kondisi mba Yeti. Maklum, Wanda sudah menikah dan mempunyai seorang anak yang tinggal bersama mertuanya di Bogor. Jadi Wanda lebih tahu kondisinya dibandingkan Ana.

Singkatnya, bayi lahir tanpa kehadiran bidan karena bidan terlambat datang (atau karena mba Yeti keburu melahirkan, hehe). Mereka berdualah yang membantu persalinan mba Yeti. Bahkan tali pusar pun dipotong oleh Ana, tentu saja setelah gunting direbus dalam air panas. Tradisional tetapi tetap steril, hehe. Bukan apa-apa, masalahnya si ibu lah yang meminta tali pusar bayi supaya dipotong. Ana sendiri tidak tahu menahu bahwa tali pusar bisa menunggu dipotong oleh bidan.

Bayi pertama lahir sungsang, kakinya dulu yang keluar. Katanya, bayi pertama lahir tanpa ketuban dan tak ada darah yang keluar. Subhanallah. Setelah satu bayi keluar, mba Yeti mengeluh perutnya masih keras. Wanda meminta untuk mengejan sekali lagi, dan dengan satu kali mengejan, keluar seorang lagi bayi mungil. Sekali lagi subhanallah.

Setelah itu tetangga berdatangan, termasuk bidan. Hadeh..kenapa mesti telat sih >.< Tetangga dan bidan agak menyalahkan Ana yang berani memotong tali pusar, mengkhawatirkan penyakit tetanus yang mungkin menjangkit.

Seorang tetangga mengeluhkan bahwa mba Yeti bohong tentang usia kehamilannya. Mba Yeti bercerita bahwa kandungannya berusia 6 bulan. Tetapi melihat kondisi bayinya sekarang, tentu sudah masuk 9 bulan. Dia menyayangkan sikap mba Yeti yang terkesan sembarangan, karena main-main dengan persalinan, tidak memeriksakan ke bidan, bahkan kembar pun dia tidak tahu. Masha Allah.. saya ikut kesal juga dengan sikapnya. Bahkan baju bayi pun belum tersedia. Anak-anak kos mengumpulkan iuran untuk membantu membeli perlengkapan bayi.

Setelah meyakinkan bahwa kamar sudah bersih dari darah dan segala macam bekas pesalinan, saya mengunjungi kamarnya. Melihat dua bayi mungil itu, rasa kesal saya hilang. And these are the babies ^_^




Setelah peristiwa itu terbesit di pikiran saya bahwa keadaan seperti itu bisa saja terjadi di sekitar saya (karena buktinya benar-benar ada!). Saya tidak bisa membayangkan seandainya waktu itu saya yang dipanggil-panggil oleh mba Yeti (mending pingsan aja deh, hehe). Jadi tidak ada salahnya kita mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan jika menghadapi situasi seperti itu. Saya mencoba mengumpulkan beberapa informasi tentang pertolongan pertama pada persalinan yang saya baca dari sebuah catatan..

  1. Berusahalah untuk tenang meskipun kita sangat cemas dan tegang. Pikiran yang tenang akan mempermudah kita berpikir logis dalam menolong persalinan. Hal ini juga diperlukan sebagai dukungan moril bagi ibu yang akan melahirkan.
  2. Persalinan pertama bagi seorang   ibu perlu mendapat dukungan dan perhatian yang lebih jika dibandingkan dengan ibu yang pernah melahirkan sebelumnya.
  3. Panggil petugas medis terdekat. Atau jika memungkinkan, bawa   ibu ke rumah sakit terdekat.
  4. Jika petugas medis belum juga datang, tempatkan   ibu di tempat yang luas dan tenang. Letakkan alas sebagai tempat ibu melahirkan (baju, kain, jaket, yang penting bersih).
  5. Bantu untuk mengatur posisi  ibu dalam posisi tidur, kepala membungkuk ke arah perut, kaki di angkat terbuka dan ditekuk, paha mengarah ke bagian perut. Tangan ibu memegang lutut dengan cara tangan melingkar di bagian belakang lutut. Posisi kita berdiri atau jongkok di samping ibu.
  6. Berikan dukungan moril pada ibu. Bimbing ibu untuk menarik nafas panjang supaya dorongan untuk mengejan berkurang. Arahkan ibu untuk bernapas pendek supaya mengurangi rasa sakit persalinan.
  7. Pada saat kontraksi datang (ditandai dengan mulas yang terus menerus) minta ibu untuk mengejan hanyaselama ibu merasakan mulas. Selama mengejan jangan bernapas pendek, minta ibu untuk mengambil napas panjang dan napas dikeluarkan bersamaan dengan mengejan.
  8. Perhatikan tanda-tanda persalinan: keluar lendir darah, rasa mulas, kontraksi yang kuat dengan frekuensi waktu yang teratur (2 - 3 menit sekali). Kontraksi juga bisa diperiksa dengan meletakkan tangan di perut ibu (dinding perut ibu menegang).
  9. Jika dorongan untuk mengejan sudah tidak tertahan, periksa apakah pembukaan sudah lengkap (kepala bayi sudah terlihat). Jika kita melihat kepala bayi mulai keluar, maka inilah waktunya kita membantu proses persalinan. Bimbing  ibu untuk mengejan saat rasa mulas datang. Jika ditahan, justru akan membahayakan bayi.
  10. Darah yang keluar selama proses persalinan adalah hal yang normal. Selain itu juga akan keluar banyak cairan sebelum dan selama proses persalinan.
  11. Jika kepala sudah mulai terlihat, letakkan telapak tangan kanan kita di atas kepala janin. Tujuannya, untuk membantu kepala agar tak jatuh ke lantai.. Selama kepala meluncur keluar, telapak tangan kiri kita menyangga daerah di sekitar perineum (antara vagina dan anus). Hal ini untuk mencegah supaya kepala tidak membuat vagina robek.
  12. Terus pegangi kepala bayi hingga semua badannya keluar. Jika tali pusar ikut keluar, biarkan saja demikian. Jika tubuh bayi tidak bisa keluar, harus ditarik karena keadaan ini tidak bisa dibiarkan terus (bayi akan tercekik). Jaga jangan sampai kepala bayi meluncur keluar dan terkena benturan.
  13. Jika bayi sudah keluar, letakkan bayi di perut ibu.  Biarkan ibu tetap pada posisinya. Jika di dalam mobil mintalah sopir untuk segera menuju ke sarana kesehatan (rumah bersalin atau rumah sakit) terdekat.
  14. Biarkan plasenta dan tali pusarnya. Jangan ditarik-tarik atau dicoba dipotong menggunakan benda  sembarangan, seperti pisau atau gunting. Hal ini untuk menghindari infeksi pada bayi. Bila takut putus, ikatlah tali pusar kira-kira 5-10 cm di atas pusar bayi dengan benang. Putusnya tali pusar bisa mengakibatkan perdarahan pada ibu. Secara alamiah, begitu bayi lahir, saluran yang berhubungan dengan tali pusar akan tertutup.Tetapi bisa saja terjadi sebaliknya, bila ternyata pada bayi terjadi kelainan atau tak terjadi penutupan, maka perdarahan pun bisa terjadi pada bayi. Karena itu yang terbaik adalah biarkan saja sampai petugas medis datang atau segera bawa ibu dan bayi ke rumah sakit.
  15. Saat bayi sudah keluar, selimuti dengan selimut atau handuk tebal atau baju atau jaket. JIka tidak diselimuti, bayi mudah mengalami kedinginan. Jika ada lampu, dekatkan lampu ke tubuh bayi untuk menjaga kehangatan.
  16. Jika punya cukup nyali, bersihkan mulut bayi dengan tangan yang dilapisi kasa steril, usapkan dengan lembut. Jangan menggunakan kapas atau tisu karena justru bisa menyumbat jalan napas si bayi. Hal ini bertujuan agar jalan nafas bayi bersih. Namun jika tidak punya alat penyedot, sebaiknya biarkan saja.
  17. Jika tidak punya cukup nyali, asalkan bayi sudah menangis, akan baik-baik saja tanpa dibersihkan sekalipun.

Semoga berguna.

No comments:

Post a Comment