Sunday, May 11, 2014

Mau Menikah: Seperti Apa Rasanya?


Menjelang acara pernikahan, tak jarang orang-orang sekitar saya bertanya, gimana rasanya mau jadi manten? Deg-degan ga? Hmm…let’s talk about that.

Pertama kali ada yang mengajak menikah, tentu kaget. Yups karena memang rejeki (harta, kemudahan, dan jodoh) tak pernah bisa diduga. Apalagi memang waktu itu saya sedang tidak terlalu memikirkan ke arah sana. Saya sedang mencari kesibukan kursus persiapan IELTS, supaya kegalauan tidak bertambah parah.

Perasaan setelah itu adalah senang. Siapa sih yang ga senang kalo mau menikah? Kecuali orang yang tidak dengan ikhlas menerima pasangannya. Bosan juga kan selama ini menyandang status anak kosan yang ke mana-mana selalu sendiri atau bergerombol bersama geng cewek teman satu kos. Juga ketika sakit dan tidak ada satu pun orang lain yang tahu. Apa iya mau seperti itu terus? Alhamdulillah, saya harus bersyukur punya teman-teman kos yang baik hati dan perhatian.

Lalu giliran berikutnya adalah…merasa berat. Yaa…segera setelah menentukan tanggal pernikahan tentu ada perasaan berat untuk meninggalkan kebiasaan dan rutinitas yang sudah dijalani selama beberapa tahun ini. Tempat tinggal yang dekat dari kantor dan fasilitas umum lainnya dalam hitungan bulan akan berganti dengan tempat tinggal di pinggiran Jakarta. Waktu jalan bersama teman dan me-time saat bersantai tentu akan berganti dengan aktivitas layaknya sebuah keluarga.

Selanjutnya…sedih. Kok? Sedihnya kenapa? Saya pernah tiba-tiba merasa sedih selepas shalat. Entah kenapa perasaan sedih itu muncul. Perasaan sedih karena memiliki status sebagai istri berarti memiliki kewajiban yang berbeda dengan status sebagai anak. Sedih karena merasa belum bisa memberi banyak pada orang tua, padahal  sebentar lagi akan menjadi hak suami, tinggal menghitung waktu mundur. Saat ijab qabul diucapkan nanti, saat itulah tanggung jawab orang tua terhadap kita berpindah kepada suami. Dan otomatis, kewajiban kita pun lebih berat kepada suami.

Ada perasaan berat karena artinya tidak boleh lagi menceritakan semua permasalahan yang dihadapi kepada orang tua (ibu) seperti yang biasa dilakukan. Selain itu, sebagai istri tentu harus menuruti perkataan suaminya karena ridho-Nya telah berpindah dari orang tua ke suami. Ada juga perasaan takut. Takut menghadapi kehidupan yang akan dijalani nanti. Takut tidak bisa menjalani peran dengan baik sebagai istri dan, insya Allah, sebagai ibu nantinya.

Terlepas dari itu semua, saya mencoba memahaminya dari sisi lain. Mungkin kita hanya melihatnya dari sisi orang tua yang merasa ditinggalkan oleh anak perempuannya yang akan menikah. Tetapi, bentuk kehilangan itu harus dipahami dari sisi yang pergi. Anak perempuan yang akan menikah berarti menjalani kehidupan baru, yang selama ini diidamkan dan ditunggu saatnya oleh orang tua.

Ada rasa sedih memang. Tapi saya juga bahagia karena akhirnya bisa memberikan kebahagiaan yang sebenar-benarnya untuk orang tua saya. Aamiin. Insya Alloh.

No comments:

Post a Comment