Sunday, December 18, 2016

Manajemen Penyimpanan ASIP



Memberikan ASI perah (ASIP) memang banyak sekali seluk beluknya. Saya akui sudah banyak sekali membaca blog atau artikel tentang manajemen ASIP. Tapi tak ada salahnya ya saya bagi cerita pengalaman saya sendiri. Cerita kali ini tentang bagaimana cara menyimpan ASIP.
Pertama, tentang memilih botol.  Botol ASIP ada beberapa macam. Ada botol ASIP yang berbentuk seperti wadah susu, cenderung lebih tipis dan memiliki tutup karet. Saya sendiri tidak pernah mencoba memakai botol ini karena menurut teman-teman yang sudah pengalaman, botol semacam ini lebih rapuh. Meskipun ringan ketika dibawa dalam perjalanan, tutup botolnya sering tiba-tiba lepas jika ASIP sedang dihangatkan. 


Botol tutup karet

Ada juga botol ASIP yang terbuat dari plastik seperti botol susu pada umumnya, hanya tutupnya saja yang tanpa dot. Jadi ketika ingin memberikan ASIP (melalui dot), tutup botol cukup daiganti dengan dot. Tapi sepertinya botol ini kurang pas di kantong, karena dalam jumlah yang besar, biaya untuk membeli botol semacam ini pasti akan membengkak.


Botol khusus, harganya lumayan



Pilihan saya jatuh pada botol yang mirip dengan kemasan UC. Kenapa saya katakan mirip? Karena saya membeli botol yang baru, bukan botol bekas. Ada botol mirip UC yang memang dibuat oleh pabrik botol menyerupai botol UC dikarenakan adanya kebutuhan para ibu menyusui (busui) yang harus menyimpan ASIP. Awalnya, seorang teman bercerita bahwa dia khawatir jika membeli botol yang kurang steril dalam proses pencucian botol. Lalu dia menyarankan saya untuk menyicil membeli UC 1000 satu botol setiap hari kemudian botol bekasnya dicuci dan disimpan sendiri. 


 Tetapi, cara ini kurang efektif juga bagi saya karena saat itu saya disarankan untuk minum CDR yang mengandung kalsium. Jadilah suami yang dikorbankan untuk minum UC 1000. Lama kelamaan dia bosan hehe. Solusinya, saya beli botol mirip UC (bukan botol bekas ya) yang memang merupakan botol baru. Oh iya, jika kita mengumpulkan botol UC sendiri, tutup botolnya bisa diganti dengan tutup plastik. Sudah banyak yang menjual tutup botol untuk botol UC. Tutupnya ada 2, tutup tekan lalu diikuti tutup ulir. Kedua tutup ini cenderung lebih aman untuk membawa ASIP hasil perahan dalam perjalanan pulang dari kantor supaya tidak tumpah.


Botol plastik khusus untuk perjalanan kantor-rumah
 Kedua, memberi label botol. Soal memberi label pun bagi saya penting. Karena label harus tetap terbaca supaya tahu masa pakai ASIP. Setelah mengikuti beberapa cerita di blog, kebanyakan botol ASIP diberi label dengan stiker kertas yang sering kita lihat untuk label alamat undangan. Sewaktu awal menabung ASIP, saya mencoba label kertas tapi ternyata luntur ketika sudah masuk freezer. Mungkin karena faktor kulkas di rumah orang tua yang ada bunga es nya. Saya memutar otak mencari cara bagaimana cara yang lebih baik untuk memberi label pada botol ASIP. Akhirnya, saya menuliskan label pada selotip bening menggunakan spidol permanent (waterproof) lalu menempelkan di botol. Cara ini terbukti dapat menjaga tulisan pada label tetap terlihat setelah berminggu-minggu disimpan di freezer.


Label di badan dan tutup botol

Ketiga, menulis label. Apa saja yang ditulis di label? Saya menuliskan nomor urut, tanggal, dan jumlah (mililiter) ASI yang ada dalam botol. Nomor urut berguna untuk melihat ASIP nomor berapa yang paling lama, dan yang paling baru. Pemberian nomor juga memudahkan ketika suatu saat kita membersihkan freezer atau kulkas. Botol ASIP yang dikeluarkan saat membersihkan freezer akan mudah disusun ulang jika diberi nomor tanpa perlu mengurutkan tanggal karena otomatis nomor yang lebih kecil adalah tanggal yang lebih awal. Jumlah (ml) ASIP pada botol juga menurut saya perlu ditulis karena ada suatu masa ketika takaran minum bayi tidak bulat kelipatan 100ml sesuai isi yang disarankan untuk botol UC. Nah, dengan menuliskan volume, kita bisa memilih botol nomor berapa yang pas untuk minum ASIP dalam sehari sehingga tidak terlalu banyak ASIP yang terbuang.


Label kertas vs Label selotip bening

Keempat, membuat daftar ASIP. Saya membuat daftar ASIP menggunakan kertas folio kemudian saya tempel di pintu kulkas. Satu halaman saya bagi menjadi 2. Kemudian setiap bagian itu dibagi menjadi kolom: Nomor, tanggal dan volume, serta wadah penyimpanan. Kenapa wadah penyimpanan ini perlu ditulis? Karena saya menggunakan plastik ASIP juga untuk menyimpan ASIP. Jika dalam daftar saya tuliskan jenis wadahnya, akan memudahkan saya untuk mencari ASIP nomor sekian di deretan botol ataukah di tumpukan plastik. Daftar ASIP ini memudahkan kita untuk memilih ASIP mana yang akan dipakai dahulu cukup dengan melihat nomornya dan mencarinya di freezer berdasarkan jenis wadahnya. Daftar ini juga berguna untuk mengecek apakah stok ASIP kita yang paling lama sudah mulai masuk masa kadaluarsa sehingga bisa mengubah pola pemberian ASIP dari first in last out menjadi first in last out. Tidak lupa juga setiap saya menurunkan botol ASIP, nomor botol ASIP yang sudah dipakai saya coret pada daftar. Hal ini memudahkan saya untuk mengecek jumlah stok ASIP dengan cepat hanya dengan menghitung nomor botol. Jumlah stok ASIP dihitung dengan: nomor ASIP tertinggi dikurangi nomor ASIP tertinggi yang dicoret dikurangi banyak ASIP yang dicoret di antara kedua nomor tersebut. Maklum ya, saya terbiasa mengelola kuesioner di kantor dalam jumlah ratusan. Sehingga, hal seperti ini sudah biasa saya lakukan hehe.





Awal menyimpan ASIP

Catatan yang tersisa


Kelima, menyusun botol dan plastik pada freezer. Setelah botol diberi nomor, saya menyusun botol tersebut berjajar ke belakang, kemudian pada barisan di sebelahnya berjajar ke belakang lagi. Untuk ASIP dalam plastik, saya membekukannya dalam keadaan mendatar supaya memudahkan menyusun dan hemat tempat. Tapi, saya tidak merekomendasikan membekukan ASIP menjadi tipis seperti itu jika ASIP akan dibawa dari dan ke luar kota ya. Karena ASIP beku cenderung mudah cair jika permukaannya semakin luas dan bentuknya tipis. Nah, untuk memudahkan mengambil, saya memberikan batas berupa talenan plastik (cutting mat). Batas ini saya letakkan di antara barisan terlama dengan barisan terbaru. Talenan ini juga berguna untuk ‘mencetak’ ASIP dalam plastik supaya beku dalam bentuk gepeng. Selain itu, saya menggunakan karet gelang untuk menandai botol mana yang besok harus dipakai dahulu jika ASIP yang sudah saya turunkan pada malam hari masih kurang. Saya cukup bilang pada pengasuh untuk mengambil botol yang saya beri karet gelang pada leher botolnya. Praktis bukan? Cara seperti ini memudahkan saya dalam memberikan ASIP, menginstruksikan pengasuh, dan menghemat waktu karena tidak perlu melihat-lihat tanggal untuk memilah botol. Seringkali terjadi, teman-teman saya mendapati ASIP yang sudah kadaluarsa. Dan harus membuangnya. Sedih sekali kan? Dengan cara ini, saya yakin tidak ada lagi ASIP kadaluarsa.


Susunan botol dalam freezer: baris yang rapi ya!

Suka sekali melihat barisan plastik ini


Masa-masa terakhir sebelum memutuskan untuk berhenti memerah ASI

Thursday, October 8, 2015

Menabung ASI di Kala Cuti


Perjuangan menyusui memang tidak mudah. Setelah lancar menyusui, tantangan berikutnya sudah menanti. Karena saya seorang ibu bekerja, maka tekad memberikan ASIP sudah ditanamkan sejak pertama kali tahu kalau saya hamil.

Seorang teman memberi tahu saya bahwa meskipun ada waktu dua bulan sejak melahirkan sampai masuk kerja, jangan menunggu sampai hari-hari terakhir untuk menabung ASIP. Intinya manfaatkan waktu yang ada. Kenapa? Karena ada kalanya stok ASIP kita pada hari itu tidak sebanding dengan ASIP yang diminum oleh bayi. Bisa karena kita sakit, sedang ke luar kota, atau karena tidak sempat memompa ASIP karena kesibukan di kantor.

Saya pertama kali pumping lima hari setelah melahirkan. Masih dengan satu-satunya pompa ASIP yang tersedia (itu pun pinjam hehe), saya mencoba memompa ASI. Pertama kali pumping, rasanya grogi (lebay ya? haha). Setelah keluar tetesan-tetesan ASI, girangnya luar biasa. Lalu setelah itu, berharap botol terisi penuh seperti ibu-ibu di instagram. Namun, harapan tidak sesuai kenyataan. Hasil pumping pertama saya sangat-sangat sedikit. Mungkin memang benar seperti kebanyakan orang, hasil pumping pertama seperti hanya membasahi botol saja wkwkwkwk


Hasil pumping pertama menggunakan Medela Mini Electric

Hasil pumping yang sedikit tadi dikemanakan yah? waktu itu karena masih sedikit setiap kali memompa, saya mengumpulkan hasil pumping pada 1 hari (dengan jarak maksimal 12 jam) untuk dibekukan ke dalam 1 botol. Pumping terus berlanjut, coba sugesti positif, pasti nanti lama-lama banyak. Setelah semingguan, benar juga, akhirnya hasil pumping saya mencapai 100 ml.


Setelah 1 minggu belajar pumping

Masalah tidak berhenti di situ saja. Ketika menyusui dan memompa, seringkali baju saya basah karena PD yang satu (yang tidak disusui/dipompa) ikut mengeluarkan ASIP. Googling sana sini, akhirnya saya menemukan sesuatu. Hasil rembesan ASI itu bisa ditampung dan hasilnya lumayan banyak terutama pada awal kehamilan. Niat hati ingin beli alat seperti ini, tapi ini barang impor dan harganya mahal sekali sekitar 450 ribu. Saya coba cari prelovednya, alhamdulillah dapat dengan harga 300 ribu. Masih mahal yah? sepertinya enggak juga sih, bukan apa-apa, karena memang saya sedang butuh waktu itu. Katanya, rembesan ASI bisa menyumbang 30% ASIP kita lho.

Penampung tetesan ASI
Posisi saya waktu itu sedang cuti melahirkan di Gombong. Untuk mempercepat pengiriman, dan hemat ongkos kirim tentunya, saya memesan penampung tersebut untuk dikirimkan ke kantor suami. Kemudian, suami saya membawanya saat pulang pada akhir pekan. Saya pikir, cara inilah yang paling efektif.

Setelah pakai penampung ASIP ini, tidak ada lagi baju yang basah karena rembesan ASI. Selain itu, saya bisa sampai dapat 70 ml jika sedang menyusui. Bagi busui, berapa ml pun sangat berharga! Tapiii lama-kelamaan ketika sedang hectic si bayi ingin menyusu, saya harus mencari-cari penampung ASI ini sebelum mengendong bayi. Setiap kali selesai digunakan untuk menampung, saya menyiram dengan air panas. Jika benar-benar tidak sempat, saya hanya menaruhnya di kulkas setelah digunakan. Selain itu, saya mencuci dan mensterilkan bersama pompa ASIP 1 kali sehari pada malam hari.

Ada kalanya setelah menyusui selama 2 jam berturut-turut, lalu bayi tertidur di pangkuan. Pikiran saat itu hanya satu, bagaimana menidurkan bayi di kasur supaya saya bisa beranjak dan beraktivitas. Percayalah, ini hal paling menegangkan seperti membawa dinamit dalam tangan, harus sangat berhati-hati supaya tidak meledak alias bangun. Nah, karena saking fokusnya meletakkan bayi ke kasur, saya sering lupa bahwa masih ada penampung ASIP yang sedang saya pakai. Kelegaan meletakkan bayi di kasur langsung diikuti kekecewaan karena sebagian ASI di penampung tumpah hiks..

Ini dia penampakan ASIP saat bayi saya berumur 3 mingguan. Memang belum banyak sih. Berapapun itu, harus disyukuri. Maafkan penataan botol yang acak-acakan. Tentang menyusun botol ASIP, akan saya tuliskan terpisah ya..

4 Oktober 2015


8 Oktober 2015

Wednesday, July 16, 2014

My Wedding Song

Sejak pertama merencanakan acara pernikahan, suami saya berpesan untuk tidak memperdengarkan lagu dangdut. Fortunately, saya juga punya prinsip seperti itu. Hiburan hemat bisa diakali dengan memutar lagu favorit untuk acara pernikahan. Saya mendapat ide ini ketika menghadiri pernikahan teman di Jakarta. Saat itu saya terinspirasi untuk mencontek. Percayalah, sebagus apapun penyanyi yang kita sewa, sepertinya bukan menjadi pusat perhatian utama. Dan jangan menyewa penyanyi terkenal juga, supaya kita tetap jadi pusat perhatian.

Sebelumnya saya memang sudah sepakat untuk tidak menggunakan acara acat, sehingga untuk lagu pengiring saat saya dan suami beserta keluarga memasuki gedung resepsi dan memasuki pelaminan saya memakai A thousand years versi piano&cello. Daan ini dia para artis yang turut memeriahkan acara saya meskipun tidak live performance alias hanya memutar mp3 hehe...


  1. A thousand year - Christina Perry feat Steve Kaze
  2. We could be in love -  KC Conception feat Christian Bautista
  3. A whole new world - Dave Koz & Donna Summer
  4. Mabrouk (english malay version) - irfan makki
  5. Barakallah - Maher Zain
  6. Cinta Silver-Glenn Fredly
  7. Just for You (dinda feat. abdul & the coffee theory)
  8. Janji Suci - yovie & nuno
  9. Sampai Nanti - kahitna
  10. Beauty Is You - abdul & the coffe theory
  11. Menikahimu - kahitna
  12. Ku cinta kau lebih dari kemarin - abdul & the coffee theory
  13. Tak ada yang bisa - Andra n the backbone
  14. untukkku -  Kahitna
  15. Aku Suka Caramu - abdul & the coffee theory
  16. Tetaplah Di Hatiku-Bunga Citra Lestari & Christian Bautista
  17. Amazing You - Abdul & The Coffee Theory
  18. Cerita Cinta - Kahitna
  19. Happy Ending - Abdul & The Coffee Theory
  20. When You Tell Me That You Love Me - diana ross
  21. Finally Found Someone - bryan adams&barbara straind
  22. Frozen In Time - James Gollins
  23. Marry Me - Train
Saya memilih lagu itu berdasarkan isi lagu (penting banget). Selain nyontek daftar lagu teman, inspirasinya saya dapat dari googling, blogwalking, atau bahkan ketika mendengarkan radio di sela perjalanan dinas saya di Surabaya. Filenya? Saya cari download-an gratiss hehe... Feel free for asking, I'll send you the song :)

Friday, July 4, 2014

Pangkas Budget Pernikahan

Menyelenggarakan acara pernikahan sebenarnya tidak ada pakemnya. Sah atau tidaknya sebuah pernikahan bagi saya hanya ditentukan oleh aturan agama, yaitu ijab qabul. Tapi pada kenyataannya kita tidak bisa sama sekali menghilangkan acara pernikahan, minimal walimatul ursy (syukuran).

Bagaimana acara pernikahan yang ideal (baca: resepsi) sebenarna tergantung standar dan prinsip masing-masing. Ada yang perfeksionis ingin semuanya sempurna seperti mainstream, mengikuti acara yang seperti biasanya. Ada juga yang punya aliran sendiri. Saya sendiri termasuk orang yang tidak terlalu terpaku pada mainstream/pakem yang dipakai. Jadi saya menghemat budget acara pernikahan dengan cara ini:

1. Acara Adat
Disadari atau tidak, menggunakan acara adat menambah biaya jasa rias pengantin. Saya sendiri tidak terlalu suka untuk menggunakan rangkaian acara acat karena gak match sama sekali dengan baju yang saya pakai. Untuk hal ini, setidaknya saya menghemat biaya Cucuk Lampah.



2. Seragam Panitia
Jika kita tidak menggunakan jasa Wedding Organizer atau Event Organizer profesional, pasti tetap memerlukan bantuan dari keluarga, tetangga, dan teman dekat untuk membantu kelancaran acara. Jika demikian, acara resepsi pernikahan yang mewah dan meriah biasanya langsung terlihat dari baju seragam yang dipakai panitia. FYI, membelikan baju seragam untuk panitia menguras dompet dan juga energi untuk berburu kain murah di tempat-tempat hot macam pasar Mayestik. Solusinya, saya membeli korsase untuk tanda panitia.

3. Souvenir 
Entah siapa yang mulai merintis untuk memberikan souvenir pada acara pernikahan. Sebenarnya fungsi souvenir ini adalah sebagai ucapan terima kasih atas kehadiran tamu. Dan satu lagi, jika ada tamu yang tidak bisa hadir dan menitipkan kado kepada rekannya, souvenir ini berfungsi sebagai bukti bahwa titipannya sudah disampaikan. Nah, saya menghemat souvenir dengan mencari tempat yang menjual souvenir dengan harga murah. Tidak perlu mahal, yang penting berkelas. Asal kita telaten mencari, pasti ada.


4. Hiburan
Sejak pertama merencanakan acara pernikahan, suami saya berpesan untuk tidak memperdengarkan lagu dangdut. Fortunately, saya juga punya prinsip seperti itu. Hiburan hemat bisa diakali dengan memutar lagu favorit untuk acara pernikahan. Saya mendapat ide ini ketika menghadiri pernikahan teman di Jakarta. Saat itu saya terinspirasi untuk mencontek. Percayalah, sebagus apapun penyanyi yang kita sewa, sepertinya bukan menjadi pusat perhatian utama. Dan jangan menyewa penyanyi terkenal juga, supaya kita tetap jadi pusat perhatian.

5. Katering
Salah satu komponen biaya acara pernikahan adalah konsumsi. Karena alasan praktis, kebanyakan orang memakai jasa katering. Untuk menyiasati budget, hitung dengan tepat berapa tamu yang hadir. Jika perlu, prediksikan berapa yang pasti datang, yang kira-kira datang, yang pasti tidak datang. Hal ini sangat membantu untuk menghitung berapa porsi makanan yang dipesan. Untuk mempermudah, kita bisa menghitung menggunakan Microsoft Excel.

6. Vendor Alternatif
Jangan terpaku pada vendor yang disediakan sepaket dari WO. Saya mencari penyewaan sound system dari luar WO dan mendapatkan harga setengahnya. Dan, menurut mas Didit dari Kibdy Ayu, kualitasnya jauh lebih bagus dari sound system rekanannya. Malah, mas Didit mau ajak kerja sama untuk acara yang berlokasi di Gombong.

7. Pinjam Teman
Baju pengantin yang biasanya dibuat khusus bisa juga dipinjam dari teman. Saya sendiri mendapat pinjaman jilbab dan aksesorisnya. Dan, banyak yang bilang bagus!! Tidak hanya baju, kotak hantaran untuk acara seserahan pun sebenarnya bisa dipinjam dari teman, asal kondisinya masih bagus. Percayalah, tidak akan ada yang ngeh kalo itu barang pinjaman selain kita dan pemilik barangnya.

Monday, June 30, 2014

Review Vendor Make Up dan Baju Pengantin (by Kibdy Ayu)

Setelah acara selesai dan berlangsung dengan lancar, saya merasa harus menulis tentang mereka yang sudah banyak membantu dalam acara pernikahan saya. Kali ini saya mau cerita tentang vendor make up dan dekorasi. Karena foto yang masih indent alias belum ada di tangan saya, hanya ada foto ini (hiks..hiks) yang bisa diupload.

More than 100 likes!!

Sesuai cerita saya sebelumnya, Kibdy Ayu membuatkan baju pengantin sesuai keinginan saya dengan model gamis. Ide memakai baju gamis muncul karena saya ga mau ribet susah jalan kalo pakai kain. Mungkin sedikit nyentrik yah, sampai bos saya di kantor nanyain, memang dibolehin sama orang tua? Hihi..maklum lah, mungkin bos saya masih kental dalam tradisinya sebagai orang Batak.

Baju pengantin saya pertama kali fitting dua minggu sebelum hari H. Saat itu, bajunya belum diberi payet, bordir di lengan juga belum ada. Kelihatan biasa banget. Satu lagi yang kurang pas, model roknya mengembang seperti baju pengantin model Barbie. Padahal, model yang saya mau seperti ini:

Saya mau yang pink!

Dalam waktu dua minggu saya minta Kibdy Ayu untuk memperbaiki modelnya. Sempet hopeless juga karena waktu sudah semakin mepet, sampai-sampai terpikir untuk pakai baju putih saja. Tapi, Kibdy Ayu menyanggupi untuk memperbaiki sesuai model awal dan menyelesaikan tepat waktu.

Akhirnya H-2 bajunya selesai. Fyi, baju pengantin itu biasanya jika dilihat kurang bagus, tetapi setelah difoto, hasilnya lebih bagus dari penampakan aslinya, hehe. Soalnya, saya agak kecewa waktu lihat hasil bajunya, tapiii setelah lihat penampakan foto dan video di weddingclip, hasilnya amazing, hihi...

Make up dari Kibdy sebenarnya bagus, asal kita teliti dan cermat memilih style yang akan kita pakai. Misalnya, saya mau jilbabnya tidak banyak aksesoris. Yang sering saya lihat, pengantin di Gombong atau Kebumen seringkali lebay: pakai bunga, hiasan logam, hiasan mutiara, dan hiasan lain. Sepertinya semua hiasan dipakai hehe. Kalo yang itu, katanya pakemnya makin rame makin bagus. Naaah kalo saya kan pakemnya less is more, hihi..alias simple is beauty. Jadi saya ga banyak pakai aksesoris (minta ga pakai bunga hidup untuk hiasan jilbab). Ditambah lagi, jilbabnya dapat sponsor pinjaman dari temen (baca ceritanya di sini), lengkap dengan hiasannya juga. Aaaahh senang sekali waktu mba Iib dari Kibdy bilang, hiasannya bagus... Sebelum hari H, saya sudah minta test makeup seperti prosedur yang banyak dilakukan di Jakarta. Test makeup berguna banget untuk melihat make up apa yang cocok untuk wajah kita dan sesuai dengan keinginan kita. Standar make up Kibdy memakai Ultima. Dari hasil test makeup itu, kami mengevaluasi bersama hasil test makeupnya. Hasilnya? Banyak yang bilang "cantik", "pangling".

Anyway, memilih Kibdy Ayu untuk makeup pada hari pernikahan buat saya memuaskan. Thanks mba Iib :)




"Kebayanya bagus"



"Cantik bgt mba, pangling"


"Bajunya bagus"

"Mba Rizka kmrn cantik bingiiit"

"Cantiiiiikkk, Subhanallah"

"Cantik banget, manglingi, bajunya jg bagus"

"Cantiknyaaa, bajunya baguuss"

"Cantik banget"

Cantikkk bgt Riz"

Wednesday, June 25, 2014

Review Vendor Weddingclip by Brainmultimedia

Dari hasil pengalaman saya blogwalking mencari referensi tentang persiapan pernikahan, saya berkesimpulan bahwa dari seluruh pernak pernik kemeriahan acara pernikahan, satu-satunya yang masih tersisa setelah acara adalah dokumentasi. Yup..karena hanya itu yang bisa disimpan seterusnya.

Sewaktu kakak saya menikah bulan April 2013 di Purwokerto, dia tidak memakai jasa video shooting. Kenapa? Karena biasanya video shooting tidak akan sempat ditonton seluruhnya karena durasinya lama dan membosankan. Maklumlah, melihat isinya seperti mengulang proses berlangsungnya acara.

Berawal dari melihat video pernikahan (yang populer disebut weddingclip) milik Dian Pelangi berikut ini, saya membulatkan tekad untuk tidak menggunakan video shooting standar.




Selain weddingclip milik Dian Pelangi, ada juga satu weddingclip yang gak kalah keren dan soo touching:



Saya sempat googling dan nemu vendor penyedia jasa pembuatan weddingclip yang bagus dan lokasinya ada di Yogyakarta, namanya Poetrafoto. Gak cuma video, tapi juga wedding photography yang lain dari baisanya, angle-nya memang unik. Tapiii setelah email2an dengan CS nya, gak kuat lihat harganya apalagi ditambah biaya akomodasi jika TKP ada di Gombong...hasilnya setara dengan paket rias dan dekorasi hahaha

Berbekal bismillah, akhirnya memberanikan diri tanya ke Kibdy Ayu, kira-kira ada gak vendor di Gombong atau Kebumen yang bisa buat video seperti itu... Apalagi ketika saya ditanya, kenapa item video shooting dihapus dari paket? Sekalian aja saya cerita apa yang saya mau dan ternyata Kibdy Ayu punya kenalan video maker di Kebumen.

Setelah dihubungkan dengan Mas Andy, saya kasih contoh wedclip yang saya mau. Terus, setelah deal harganya (yang mau tau harganya, PM aja yah hehe), kami berkomunikasi mengenai konsep videonya mau seperti apa. Weddingclip ini meskipun hanya 5-7 menit, tapi pengambilan gambarnya harus banyak dan angle nya harus lain dari biasanya. Imbasnya, kamera harus canggih dan crewnya juga harus ditambah dari video shooting biasa.

H-3, tepatnya hari Rabu, saat saya sudah mulai mengambil cuti, kami memulai proses pengambilan gambarnya. Karena rangkaian acara pernikahan saya sederhana, tidak ada acara adat, jadi mas Andy membuat wedclip saya dengan rangkaian seperti berikut.
  1. Pengambilan gambar property pernikahan: cincin, baju putih, sandal, baju resepsi.
  2. Adegan berkirim Whatsapp (adegan ini candid buat mas suami hehe).
  3. Pemasangan henna di tangan saya.
  4. Persiapan akad nikah (di rumah saya dan di rumah suami)
  5. Acara seserahan
  6. Prosesi akad nikah
  7. Acara resepsi
  8. Testimoni teman-teman
Sewaktu shoot baju akad nikah: totalitas!
 Seminggu setelah acara pernikahan saya, mas Andy sudah menyelesaikan wedclip saya. Tetapi dari wedclip itu masih ada beberapa yang saya minta untuk diedit. Mas Andy setuju untuk memperbaiki wedclip atau dengan kata lain membuat versi keduanya berdasarkan masukan saya.


Setelah saya upload ke FB, surprisenya....tanggapan teman-teman lumayan bagus. Cekidot:

31 likes!!



They said: bagus, merinding, cantik, romantis, so sweet, keren

They said: cantik, artis, hihihi

She said: so nice!
Ada yang naksir loh



Paling bagus di antara bikinan mas Andy :)

Only from simple thing


Sunday, May 11, 2014

Mau Menikah: Seperti Apa Rasanya?


Menjelang acara pernikahan, tak jarang orang-orang sekitar saya bertanya, gimana rasanya mau jadi manten? Deg-degan ga? Hmm…let’s talk about that.

Pertama kali ada yang mengajak menikah, tentu kaget. Yups karena memang rejeki (harta, kemudahan, dan jodoh) tak pernah bisa diduga. Apalagi memang waktu itu saya sedang tidak terlalu memikirkan ke arah sana. Saya sedang mencari kesibukan kursus persiapan IELTS, supaya kegalauan tidak bertambah parah.

Perasaan setelah itu adalah senang. Siapa sih yang ga senang kalo mau menikah? Kecuali orang yang tidak dengan ikhlas menerima pasangannya. Bosan juga kan selama ini menyandang status anak kosan yang ke mana-mana selalu sendiri atau bergerombol bersama geng cewek teman satu kos. Juga ketika sakit dan tidak ada satu pun orang lain yang tahu. Apa iya mau seperti itu terus? Alhamdulillah, saya harus bersyukur punya teman-teman kos yang baik hati dan perhatian.

Lalu giliran berikutnya adalah…merasa berat. Yaa…segera setelah menentukan tanggal pernikahan tentu ada perasaan berat untuk meninggalkan kebiasaan dan rutinitas yang sudah dijalani selama beberapa tahun ini. Tempat tinggal yang dekat dari kantor dan fasilitas umum lainnya dalam hitungan bulan akan berganti dengan tempat tinggal di pinggiran Jakarta. Waktu jalan bersama teman dan me-time saat bersantai tentu akan berganti dengan aktivitas layaknya sebuah keluarga.

Selanjutnya…sedih. Kok? Sedihnya kenapa? Saya pernah tiba-tiba merasa sedih selepas shalat. Entah kenapa perasaan sedih itu muncul. Perasaan sedih karena memiliki status sebagai istri berarti memiliki kewajiban yang berbeda dengan status sebagai anak. Sedih karena merasa belum bisa memberi banyak pada orang tua, padahal  sebentar lagi akan menjadi hak suami, tinggal menghitung waktu mundur. Saat ijab qabul diucapkan nanti, saat itulah tanggung jawab orang tua terhadap kita berpindah kepada suami. Dan otomatis, kewajiban kita pun lebih berat kepada suami.

Ada perasaan berat karena artinya tidak boleh lagi menceritakan semua permasalahan yang dihadapi kepada orang tua (ibu) seperti yang biasa dilakukan. Selain itu, sebagai istri tentu harus menuruti perkataan suaminya karena ridho-Nya telah berpindah dari orang tua ke suami. Ada juga perasaan takut. Takut menghadapi kehidupan yang akan dijalani nanti. Takut tidak bisa menjalani peran dengan baik sebagai istri dan, insya Allah, sebagai ibu nantinya.

Terlepas dari itu semua, saya mencoba memahaminya dari sisi lain. Mungkin kita hanya melihatnya dari sisi orang tua yang merasa ditinggalkan oleh anak perempuannya yang akan menikah. Tetapi, bentuk kehilangan itu harus dipahami dari sisi yang pergi. Anak perempuan yang akan menikah berarti menjalani kehidupan baru, yang selama ini diidamkan dan ditunggu saatnya oleh orang tua.

Ada rasa sedih memang. Tapi saya juga bahagia karena akhirnya bisa memberikan kebahagiaan yang sebenar-benarnya untuk orang tua saya. Aamiin. Insya Alloh.