Friday, July 20, 2012

Final Battle


Hari ini saya sudah mulai puasa, sehari lebih awal dari yang ditetapkan pemerintah. Seperti biasa, dan pada umumnya, kita butuh sedikit penyesuaian pada hari pertama puasa. Awal bulan ramadhan kali ini bertepatan dengan akhir perjalanan saya dalam proses seleksi pegawai BI, seleksi tahap ketujuh. Ya, BI alias Bank Indonesia.

Gak bercanda kan? Enggak, hehe. Ini serius. Tapi kali ini saya ingin cerita tentang pengalaman hari ini. kalau tentang awal mulanya, di lain cerita saja ya, hehe..

Saya mendapat email dari staf BI hari Rabu setelah makan siang. Waktu dapat email itu, saya lega banget karena kegelisahan selama lebih dari enam minggu menanti jadwal wawancara terjawab sudah. Di email itu tertera jadwal wawancara saya adalah hari Jumat, 20 Juli 2012, pukul 08.00. Ketentuan mengikuti wawancara ada tiga: pertama, hadir 30 menit sebelum waktu yang ditentukan; kedua, mengenakan kemeja putih dan celana/rok warna hitam; dan yang ketiga, membawa kartu peserta ujian. Kartu peserta ini hanya sekali diberikan dan selalu dibawa setiap kali mengikuti tes.

Gedung BI

Saya bersiap lebih pagi dari biasanya saya berangkat ke kantor. Saya sudah tiba di Gedung Tipikal BI pukul 07.00. Satpam di gedung itu menyuruh saya untuk menunggu di ruang resepsonis. Pukul 07.15 saya dan dua peserta dipersilakan naik ke lantai 12 menuju Divisi Pelaksanaan Pemenuhan dan Pemeliharaan Sumber Daya Manusia. Di sana, kami dikumpulkan terlebih dahulu untuk diberikan pengarahan. Pengarahan ini berisi: tips-tips wawancara, gambaran umum kondisi ruangan saat wawancara nanti, termasuk jumlah pewawancara. Pada hari itu ada 12 orang yang mengikuti wawancara. Kedua belas orang itu terbagi menjadi tiga kelompok sesuai bidangnya. Hal ini dilakukan agar pewawancara lebih mudah menilai peserta dengan bidang pendidikan yang sama. Saya bersama tiga peserta lainnya tergabung dalam tim yang diwawancarai oleh Direktorat Keuangan dan Moneter. Mereka semua juga lulusan matematika, satu orang lulusan UGM sedangkan dua orang lainnya lulusan ITB. Wah, sudah jatuh mental duluan >.< but the show must go on.

Pukul setengah sembilan kelompok kami dipandu menuju lantai 19 Gedung B, gedung baru yang berwarna biru. Saat keluar dari lift di lantai itu saya melihat tulisan Biro Riset Ekonomi. Saya pikir, divisi inilah yang memiliki tugas melaksanakan riset di bidang ekonomi. Setelah itu, kami diberikan pengarahan sekali lagi. Pengarahan kali ini lebih detail terkait hak dan kewajiban ketika sudah diterima menjadi pegawai BI. Yang akan mewawancarai kami adalah pegawai BI setingkat direktur yang mempimpin suatu direktorat. Kami diberi penjelasan, jika diterima menjadi PCPM nanti, kami harus mengikuti pendidikan selama setahun. Selama pendidikan ini, calon pegawai mendapatkan tunjangan (bukan gaji) untuk tempat tinggal, transportasi, uang makan, dan uang kesehatan sebesar 4,8 juta per bulan. Bagi yang lulus masa pendidikan dan diangkat menjadi pegawai akan mendapatkan gaji antara 8,7-9,1 juta per bulan, bergantung pada tingkat kemahalan kota penempatan, kemudian fasilitas asuransi kesehatan (untuk suami/istri dan anak, sampai anak ketiga), juga rumah dinas (di daerah kesempatannya lebih mudah daripada di Jakarta). Waahh banyak bangeeettt.

Setelah itu kami dipersilakan keluar untuk kemudian dipanggil satu persatu. Saya mendapat urutan kedua. Jujur, saya sangat nervous. Sudah sekitar dua setengah tahun yang lalu saya ikut wawancara seperti ini, rasanya sudah lupa, hehe.. Apalagi sekarang ini posisi yang dilamar memiliki fasilitas yang menggiurkan.

Menunggu peserta pertama sepertinya lamaaa sekali.. Begitu peserta pertama selesai, jantung saya berdebar-debar, makin grogi. Apalagi melihat salah satu pewawancara tengah membuka buku tentang time series setebal sepuluh senti.

Pertanyaan wawancara diawali dengan topik kota asal saya. Mereka memegang CV yang berisi data isian saya sewaktu melamar. Pada intinya pertanyaan dapat dikategorikan menjadi tiga:

  1. Pertanyaan tentang substansi mata kuliah saya. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain tentang: persamaan regresi, konsep ordinary least square, asumsi regresi, kriteria robust (Best Linear Unbiased Estimator), autoregresi, asumsi erornya, sampai pemrograman. Mereka juga menanyakan apakah saya bisa menuliskan program untuk mencari OLS. Saya benar-benar tidak tahu, jadi saya jawab tidak bisa, pak. Oh ya, rantai Markov dan sifat-sifatnya juga ditanyakan. Masha Allah, itu sudah lama sekali, dan saya tidak bisa menjawabnya dengan sempurna.
  2. Pertanyaan tentang pengetahuan BI. Hal-hal yang ditanyakan meliputi: fungsi BI, tiga pilar BI (saya nggak hafal, padahal udah baca), moneter, inflasi, independensi BI (pengertian, pengaruh, dan contoh campur tangan pemerintah). Padahal yang saya pelajari tentang info terkini tentang pinjaman Indonesia untuk IMF.
  3. Pertanyaan tentang pekerjaan saya sekarang. Setelah saya menjelaskan, saya ditanyai, apakah pernah mengalami kondisi yang tidak diharapkan saat bekerja? Kemudian apa yang dilakukan? Jam kerja di tempat saya juga ditanyakan, apakah sering lembur? Kapan dan mengapa harus lembur? Apakah terbiasa bekerja pada hari sabtu-minggu? Apakah mengalami kesulitan jika harus bepergian ke lapangan? Untuk bagian ini saya bisa menjelaskannya dengan baik. Ya iya lah, karena saya sedang mengalaminya.

Wawancara saya berlangsung 45 menit. Itu adalah waktu minimal yang disebutkan panitia. Katanya, jika berlangsung cepat berarti hasilnya kurang bagus. Jika memakan waktu lama berarti tandanya pewawancara senang mengobrol dengan kita.

Yang jelas, semua langkah ini sudah saya jalani. Saya menyerahkan hasilnya pada Allah. Insya Allah pasti kita diberikan yang terbaik. Saya bisa mengikuti seleksi ini sampai tahap terakhir, minimal itu sudah merupakan suatu achievement bagi saya.

Semoga berguna.

At least sudah sampai final, hehe

Friday, July 6, 2012

"Sembilan"

Ada menu yang sekuat tenaga, saya dan istri, coba hindari, yaitu mie instant. Padahal jelas rasanya enak, gampang dibikin, ditambah telor dan cabe bisa jadi menu alternatif. Apalagi kalau sedang turun minat makan menu harian.

Kami mungkin "korban" kampanye hidup sehat. Meski predikatnya korban, toh kami bersyukur juga karena dampaknya positif. Banyak yang bilang jenis makanan ini pelan-pelan jadi racun bagi tubuh, jadi wajar kan kalau ada kekhawatiran.

Soal mie instant ini jadi bagian dari bahan obrolan kami soal keinginan hidup sehat. Topik lain biasanya adalah gorengan, lodeh bersantan kental (yang jadi kegemaran), kebiasaan jalan pagi di hari libur yang susah jadi rutinitas, sampai menu-menu alternatif tanpa minyak.
Bagian ini istri memang agak bawel, hehehe.

Kalau dengar ada kawan yang dipanggil Tuhan pada usia muda, apalagi yang karena sakit jantung atau kanker, pasti ada perubahan drastis di rumah. Menu masakan sehat, yang serba rebus dan bebas minyak silih berganti datang. Olahraga juga jadi prioritas di minggu pagi. Pendeknya, semangat hidup sehat menggebu-gebu. Setidaknya sampai beberapa hari, hingga ingatan soal kawan yang meninggal gara-gara kanker atau serangan jantung itu lewat tanpa bekas. Lalu kebiasaan makan menu tak ramah jantung dan berpotensi kanker datang lagi. Gorengan di pagi hari, lodeh santan, menu padang, termasuk item-item aneh macam iso, babat dan bangsa jeroan lain. Semangat untuk disiplin makan sayur, rajin konsumsi buah, rutin olahraga lewat bersama angin.

Sampai perut makin buncit dan semakin banyak celana jeans harus digantung karena tak muat lagi. Sampai ada berita lagi soal kawan yang meninggal karena kanker atau serangan jantung. Ada juga perasaan kangen pada lingkar perut 80 cm dan mulai kecapekan membawa bagong style yang 93 cm ini. Meski selalu hanya one pack dan bukannya six pack, tapi 80 tentu jauh lebih nyaman dibanding ukuran nyaris semeter.
Istri sering bawel kalau soal lingkar perut sudah saya omongin. Atau muka stres yang kelihatan datang di depan cermin. Tapi saya bilang, ini bukan soal penampilan. Bukan tentang six pack atau one pack. Ini soal kesehatan.

Ah, segitunya...
Ya jelas dong.
Hari ini ulang tahun pernikahan kami ke sembilan. Kami baru sembilan tahun menikah. Belum seberapa lama bahkan belum sepuluh tahun.

Kata orang tahun kelima ada banyak cobaan dalam pernikahan, dan nampaknya sudah jauh kami lewati. Tapi ini kan tetap baru sembilan tahun. Masih ada puluhan tahun ke depan yang harus kami lewati. Abim akan sunat beberapa tahun lagi. Ayrin masuk TK. Tanpa terasa Abim menikmati masa SMP, SMA, kuliah, mengenal gadis kalem yang dia nantikan, dan kemudian 20 tahun lagi saya harus mengantarnya melamar.

Ayrin

Sementara lima tahun setelah lamaran itu, saya insyaAllah harus menjadi wali nikah untuk Ayrin. Dan lalu keduanya akan hidup dengan keluarga masing-masing. Di masa depan tentu komunikasi lebih mudah. Konferensi video bisa dilakukan setiap saat dan komunikasi bisa terjalin layaknya kita hidup bersebelahan.

Tapi tetap, saya akan menjalani hidup ini secara nyata, dengan perempuan yang sembilan tahun lalu saya pilih untuk dinikahi. Perempuan, yang sembilan tahun lalu, saya memegang erat tangan ayahnya pada satu senja, dan berjanji bahwa putrinya akan saya jaga sepenuh hati apapun yang terjadi.

Jadi, jika saya harus menikmati semua itu di tahun-tahun depan dan memenuhi janji untuk menjaga perempuan ini, maka saya ingin selalu bisa menjalani semuanya dalam suasana penuh berkah, rahmat, kesehatan, kesejahteraan dan rasa syukur. Maka sebenarnya, kegalauan akan lingkar perut yang 93 cm itu adalah pertanda, betapa saya ingin selalu sehat untuk menikmati kehidupan bersama perempuan pilihan hati ini.

Saya ingin sehat karena ada begitu banyak yang harus dilakukan bersama di masa datang.
Djeung iva, terima kasih untuk sembilan tahun yang luar biasa ini.
Terima kasih untuk menu sehat dari dapur, untuk membolehkanku memakai pembersih muka, memegang remote waktu nonton tivi, dan berlama-lama baca buku di kamar mandi tiap pagi.
Semoga Allah memudahkan untuk tahun-tahun mendatang.

***

Ini bukan tulisan saya (jelas, hehe). Suami dari sepupu saya menuliskannya dalam rangka ulang tahun pernikahan kesembilan (makanya judulnya "9"). Romantis. Saya tersentuh pas baca bagian ini:
"Saya ingin sehat karena ada begitu banyak yang harus dilakukan bersama di masa datang."
Ternyata ada yang setuju dengan saya (di tulisan saya sebelumnya) bahwa, kita hidup sehat bukan hanya untuk diri sendiri.

Tuesday, June 26, 2012

OIC Project (jadi guide lagi)

Dua hari kemarin saya pergi ke Jogjakarta. Bukan untuk liburan, tetapi pekerjaan. Yup, selain karena pekerjaan, saya jarang sekali bepergian untuk jalan-jalan. Kalau kata teman saya sih, istilahnya DIPA tracker.. DIPA itu singkatan dari Daftar Isian Perencanaan Anggaran (anggaran pemerintah). Jadi, saya hanya bepergian ketika ada tugas negara. Kali ini saya bukan DIPA tracker, hehe.. Sebab tugas kali ini didanai oleh Organization of Islamic Cooperation (OIC).

Jadi ceritanya, OIC ini ingin membuat buku tentang gambaran iptek dan inovasi di negara-negara Islam. Nah, Indonesia adalah salah satu targetnya. Meskipun Indonesia bukan negara Islam, tetapi penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam.

OIC menggunakan jasa konsultan, yaitu Royal Society, yang berkedudukan di Inggris. Royal Society ini mengutus satu stafnya ke Indonesia (dan juga ke negara-negara lainnya) untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Staf Royal Society yang bertugas di Indonesia adalah Ms. Priya Shetty. Pertama kali saya melihatnya melalui Skype untuk diskusi pre-project (dia di London). Saya bertatap muka secara langsung dengan Priya pertama kali di Jakarta pada saat dia datang ke kantor saya untuk menjelaskan kontrak pekerjaan. Dan bisa ditebak, saat dia datang saya tidak banyak berbicara dengannya karena ada banyak senior di kantor saya yang lebih fasih berbicara bahasa Inggris.

Project ini mengharuskan kami merancang Focus Grup Discussion (FGD) maupun jadwal wawancara dengan orang-orang yang diinginkan Priya. Dia sudah memiliki kategori pakar, antara lain: lembaga litbang pemerintah, universitas negeri dan swasta, lembaga litbang nonpemerintah, perusahaan swasta, peneliti, akademisi, pengusaha, innovator, politisi, bahkan parlemen (DPR). Tentu saja topik yang dibahas adalah seputar iptek dan inovasi.

Ada beberapa lokasi tempat dilaksanakannya kegiatan ini. Saya dan beberapa rekan kebagian menemani Priya di Yogyakarta. Sebelumnya ada tawaran meyertai Priya ke Bali selama tiga hari, tetapi karena ada tugas lain yang bersamaan waktunya, saya tidak bisa menerimanya (sayang banget..padahal saya belum pernah ke Bali, hiks). Saya menerima tawaran ke Yogyakarta karena bisa sekalian pulang kampung. Dari Jakarta saya pulang dulu ke rumah, mudik selama tiga hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk bertugas. Lumayan lah, hehe..

Kegiatan FGD di Yogyakarta dilaksanakan di Fakultas Teknik UGM dan di Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta. Topik diskusi di UGM terfokus pada keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian, kemudahan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta isu BHMN yang masih belum jelas (bahkan bagi UGM sendiri). Sedangkan diskusi di UPN terfokus pada topik tentang kolaborasi kegiatan penelitian dan kendala kegiatan penelitian di UPN Veteran sebagai perguruan tinggi swasta.



Setelah dua diskusi ini, kami sempat membawa Priya jalan-jalan ke Candi Prambanan. Kami menceritakan legenda Candi Prambanan sebisanya, dan seingatnya. “There was a man who wants to propose a woman. Her name was Roro Jonggrang. But she didn’t want to marry him. So, she asked the man to make a thousand temples only in one night. The man asked  the devil to help him. She was afraid of this. So, the woman made the situation as if the morning came. The man were very angry and made her a temple, named Roro Jonggrang Temple.” Wahh..gak tau ini bener apa nggak, ceritanya dan juga cara nyeritainnya, hehe..

Sesampainya di objek wisata Candi Prambanan, kami melihat banyak sekali pengunjung. “This month is holiday period for students in Indonesia,” saya jelaskan begitu. Saya, jujur saja, belum pernah ke Candi Prambanan. So lucky, akhirnya bisa sampai sini tanpa sengaja. Pintu masuk untuk wisatawan asing dipisahkan dari wisatawan lokal. Harga tiket masuk untuk wisatawan asing juga lebih mahal (USD 13) dibandingkan dengan wisatawan lokal (Rp 30.000).



Memasuki komplek Candi Prambanan, ada beberapa candi yang berantakan dan tanahnya tampak berdebu. Saya bilang ke Priya, “The dust are from Merapi eruption. The temple are still being reconstructed because of the earthquake.” Padahal saya juga gak tahu pasti, tapi daripada tidak ada bahan obrolan, hehe..

Sayang sekali kami ketinggalan jadwal untuk masuk ke candi Ratu Boko, yang kata supir kami sangat indah dilihat pada sore hari saat matahari terbenam. Candi utama Roro Jonggrang juga tidak bisa dimasuki. Meski begitu, kami masih bisa masuk ke salah satu candi dan sempat berfoto di dalamnya.


 
Di sela perjalanan pulang dari Prambanan, kami mengobrol apa saja, mulai dari makanan khas Yogya, keraton Yogya, Gunung Merapi, dan banyak hal tentang Indonesia. Saya juga ganti bertanya pada Priya tentang film India: apakah semua orang India pandai menari? Kedengarannya konyol, tetapi saya penasaran, hehe.. “Most people in India can dance”, begitu katanya. Saya bilang, “Shah Rukh Khan is very famous in Indonesia.” Priya juga menjelaskan lebih jauh tentang Bolywood, bahwa memang ada diskriminasi dalam pemilihan movie star di India. Saya juga bilang saya sangat kagum dengan Taj Mahal, “I wish someday I could have been there,” hehe..

Priya sendiri adalah warga negara UK. Dia lahir dan tinggal di London. Orangtuanya sudah menetap di London sejak dia kecil dan hanya beberapa kali dalam setahun mengunjungi keluarga besarnya di India. Hmm..saya kemudian penasaran juga bertanya tentang Pangeran William, hehe.. “Most people admire Prince William so much, also my sister,” katanya. “For about 6 months before the wedding, no other headline news except their wedding..” Jelas lah, karena di Indonesia pun begitu, hehe..



Kami berpisah setelah mengantar Priya ke hotel tempat dia menginap di Yogyakarta. Dua hari kemudian kami bertemu dia lagi di Jakarta untuk acara serupa.

Saturday, May 26, 2012

Becoming A Tour Guide ^_^


Akhir bulan Mei kemarin, kantor saya punya hajat menjadi penyelenggara International Seminar on Science, Technology, and Innovation Instruments: Designing Effective Incentive for Asian Countries. Seminar dua hari ini merupakan kerjasama Unesco Jakarta Office dan LIPI dengan kantor saya sebagai focal point-nya. Seminar – yang diadakan di Hotel Santika Premier Slipi pada tanggal 23-24 Mei – ini  ditujukan bagi pembuat kebijakan iptek di negara-negara Asia, sebagai sarana sharing tentang kebijakan pemberian insentif inovasi di negaranya masing-masing. Dengan adanya acara ini, diharapkan terjadi pembelajaran tentang pelaksanaan kebijakan iptek, baik itu yang berhasil maupun yang gagal. Meskipun dalam nama seminar terdapat kata Asian Countries, tapi tidak semua negara Asia hadir di sini. Peserta yang hadir adalah perwakilan dari Malaysia, India, Pakistan, Thailand, Vietnam, Filipina, dan China.

Seperti biasanya, dalam setiap penyelenggaraan seminar, notulensi tidak boleh ketinggalan. Saya dan beberapa teman yang masih muda bertugas menjadi raporteurs. Kami bertanggung jawab untuk melaporkan hal-hal yang disampaikan selama acara berlangsung: sesi presentasi tiap negara dan sesi diskusi pada akhir acara. Selain menjadi raporteur, saya mendapat tugas tambahan di sekretariat, karena salah satu sekretaris kantor saya sedang mendapat musibah dan tidak bisa hadir selama hari penyelenggaraan seminar. Konsekuensinya jelas, pekerjaan saya bertambah. Tapiii…karena pekerjaan saya yang banyak itu, saya bisa menginap di hotel. Lumayan lah untuk anak kos, hehe..

Pada pagi hari saat registrasi hari kedua, Chyntia, peserta dari Filipina, bertanya pada saya letak toko souvenir yang dekat dengan hotel. Chyntia bilang, dia diberitahu oleh Bu Wati (wakil ketua panitia) tentang toko souvenir itu. Setelah saya konfirmasi, ternyata yang dimaksud adalah Sarinah di kawasan Jakarta Pusat.

Saya bilang, “Sarinah is expensive. You can get the cheaper near here in Thamrin City.”
“Where is it?” tanya Chyntia.

Chyntia menanyakan letak Thamrin City yang saya maksud sembari menyodorkan peta Jakarta. Aduh..pusing jika harus memberi petunjuk karena sulit dijangkau dengan Trans Jakarta.

Spontan saya berkata,
“If you want to go there, I will accompany you..”
“Oh..it’s good idea, the participant from India also want to buy souvenirs. It’s better to go with you because I’m worried about getting lost in Jakarta.”

Hahaha…memang Jakarta cukup ruwet untuk dijelajahi orang baru, kecuali menggunakan bus Trans Jakarta.

Jadilah sore itu saya mengantar mereka. Ternyata peserta yang ingin ikut jalan-jalan bertambah menjadi 5 orang, ditambah peserta dari China, Thailand, dan Vietnam. Berita baiknya, saya mendapat bantuan tour guide. Teman sesama LIPI dari satuan kerja lain yang menjadi peserta seminar menawarkan diri untuk ikut jalan-jalan. Tentu saja dengan senang hati saya menerimanya. Kami pergi menggunakan dua taksi. Saya dan teman saya masing-masing membawa satu rombongan. Jam 5 setelah seminar selesai, kami berangkat dari hotel.

Mereka ingin mencari souvenir kecil (gantungan kunci, dan semacamnya) untuk diberikan kepada teman-teman mereka. Saya ingat, pernah membeli souvenir di Thamrin City saat saya akan pergi ke Hanoi. Tapi sayangnya saya lupa alamatnya dan kartu namanya pun ketinggalan. Maklum, namanya juga acara dadakan. Jadi saya alihkan juga topik pembicaraan menjadi batik. Dan saya dengan semangat berusaha menceritakan tentang kekayaan dan kebanggaan kita yang satu ini meski bahasa Inggris saya gak lancar-lancar banget. Kami berdua seolah-olah sedang menjadi tour guide bagi wisatawan asing. Inilah alasan kenapa saya mau mengajak mereka jalan-jalan. Saya senang memperkenalkan Indonesia dan budayanya kepada orang asing.

Sampailah kami di pertokoan batik di Thamrin City. Secara kebetulan kami melewati toko souvenir. Mereka membeli beberapa souvenir gantungan kunci dari lempengan perak bergambar wayang. Lumayan lah, daripada tidak dapat sama sekali, hehe..

Setelah itu, kami muter-muter mencari baju batik. Chyntia masih saja bersikeras menanyakan batik seperti yang saya pakai.
Saya bilang, “This is special because it is made by order.”
Lalu tanyanya, “It has good quality. How much you buy?”
“About 17 USD.”
“Oh..sure it’s a good dress”
Hehe..seneng nih dipuji..

Setelah pusing mencari-cari batik, dan menemani Dr. Ruckmani dari India menawar baju (setengah malu juga nawarnya rendah bgt bo!), sampailah kami di suatu kios. Kios kecil tapi saya pikir lumayan bagus barang-barangnya. Shi Yu dari China tertarik dengan salah satu dress yang dipajang. Penjualnya seorang pria berusia kira-kira  tiga puluhan. Entah memang karena barang-barangnya bagus, atau karena sesuai selera mereka, atau memang sudah rejekinya mas-mas si penjual, kami terhenti cukup lama di kios ini.

Chyntia, Ruckmani, dan Shi Yu tampaknya tertarik menjelajah kios ini (saya lupa namanya). Mereka mencoba baju, meminta ukuran lain, atau warna lain. Mr. Xuan Dinh dari Vietnam dan Mr. Vudeepong Dari Thailand hanya mengamati mereka yang asik memilih. Mungkin memang sudah kodratnya wanita, di mana pun suka belanja, hehe… Kami berdua membantu mereka memilih dan menjelaskan kepada mereka: ini batik apa, kenapa warnanya gelap, kenapa ini lebih mahal. Juga menjelaskan tentang batik tulis, batik cap, dan printing, tentu saja dengan bahasa Inggris yang sekenanya, haha.. Kadang saya mendengar mas-mas penjual kewalahan dan memanggil-manggil kami, “Mbak..mbak..iki ngomong opo tho..aku gak ngerti ngomong opo?” Hahaha..lucu sekali..

Asik memilih

Di sela-sela keributan itu, saya bertanya pada mas-mas penjual, “Belum mau tutup kan mas? Maaf ya mas..bawa tamu bikin pusing, hehe…” Lalu mas penjual menjawab sumringah, “Oh..sante mba..kalo ada yang beli ya belum tutup kok..” Ah…masnya bisa aja nih

Setelah proses pemilihan dan tawar menawar yang cukup alot (hehe..), akhirnya barang belanjaan dibayar. Total belanjaan mereka sekitar 800 ribu rupiah. Hmm..lumayan banget laku sebesar itu pada saat kios hampir tutup.
Mas-mas penjual senang sekali seraya berkata, “Suwun yo mbak..matursuwun banget lho..
Saya pun gak kehabisan kata, “Ya mas..sama-sama..besok kalo kita berdua belanja di sini dikasih diskon lho ya..”
Hahaha..dasar wanita, tetap saja memanfaatkan kesempatan untuk belanja (atau minimal dapat diskonan).

Mas-masnya sumringah banget, Alhamdulillah lariss...


Di tengah perjalanan mencari tempat makan malam, Ms. Ruckmani berkata bahwa dia ingin membawa makanan khas Indonesia yang tahan sampai tiga hari untuk dibawa ke negaranya. Waduh…malam-malam begini, di mana bisa mencari makanan khas Indonesia? Yang tahan tiga hari ya..? Apa pula makanan Indonesia itu? Kan ada banyak.. (pusing!!)

Secara kebetulan kami melewati kios kecil yang menjual camilan kiloan. Ms. Ruckmani semangat sekali mampir, kami pun mengikutinya. Di kios itu dijual makanan kering seperti keripik pisang (khas Lampung), keripik nangka (khas Jawa Timur), sagon (camilan dari jawa), keripik bayam, keripik belut, keripik ceker, dan sebagainya. Kami berdua menjelaskan makanan itu, masih dengan bahasa Inggris yang sebisanya, hehe… Yang lucu adalah ketika mereka tahu ada makanan terbuat dari Chicken Foot, alias keripik ceker ayam, dan juga Chicken-Intestinous Chips alias keripik usus ayam. Mereka heran kenapa ada makanan seaneh itu, haha.. Tak ada yang berani mencoba dua makanan itu. Ms. Shi Yu hanya berani mengambil fotonya, “I will show it to my friends in Beijing, it’s very strange food..” Hehehehe…

Sesi belanja ditutup dengan makan malam di Es Teler 77. Tentu saja setelah saya dan teman saya menjelaskan tentang menu-menu yang ditawarkan di sana, hihihi… Lucunya, Mr. Xuan Dinh kepedesan makan nasi goreng yang diberi irisan cabai rawit merah. “It’s very amazing, is it normal for a serving?” Kami berdua melirik ke piringnya, “Noo..it’s too hot..” Hahaha..kami semua pun tertawa..sepertinya Mr. Xuan salah pilih menu, memesan nasi goreng pedas.

Bersama Ms. Shi Yu




Sesampainya di hotel, kami sempat berfoto bersama. Mereka kelihatan senang meskipun capek. “Thank you very much..” Hmm..pengalaman menarik buat saya..because it represents how good you can describe your country to foreigners.

Mr. Le Xuan Dinh, Ms. Ruckmani, Ms. Chyntia, Saya, Teman saya, Mr. Vudeepong, dan Ms. Shi Yu

Tuesday, May 22, 2012

The Babies


Saat nyenyak tertidur, saya tiba-tiba terbangun. Malas sekali saya lihat jam dinding kamar. Pukul setengah tiga pagi. Saya sendiri tidak ingat persis apa yang membuat saya terbangun barusan. Kamar saya ada di depan, dan karena letaknya itulah sering terdengar suara kencang (orang mengobrol di jalan, suara motor), dan ini kerap kali membangunkan saya.

Terdengar orang berjalan seperti terburu-buru. Gila, saya pikir. Jam segini sedang enak-enaknya tidur, besok kan mesti bangun pagi berangkat kerja. Saya mau tidur lagi. Kembali saya meringkuk di kasur saya, tutup telinga dengan bantal.

Tetap saja saya tidak bisa tidur nyenyak seperti semula. Ada suara gaduh. Orang berlari ke sana kemari, seperti suasana genting. “Cepetan..udah ke sini aja..” Suara perempuan. Aduhhh..apa siih..
Tak lama kemudian ada yang bilang, “Bayinya udah lahir..” Saya terjaga, tapi masih malas bangun. Terdengar suara tangisan bayi. Tak begitu kencang terdengar dari kamar saya.

“Mba..mba.. keluar satu lagi.. Bayinya dua..” Aduh...kalo sudah begini saya benar-benar ga bisa tidur. Saya keluar kamar. Pintu depan kos kami terbuka lebar. Penghuni kamar depan saya berdiri di depan kamarnya, masih memakai kostum tidurnya. Saya bertanya,

“Siapa yang lahiran?”
“Mba Yeti”
“Hah? Mba Yeti?” Saya kaget.
“Iya, bayinya kembar, cewek-cewek
“Hah?” Saya makin kaget.

Saya menutup pintu. Masih mengingat-ingat rangkaian kejadian barusan. Sambil meyakinkan diri, ini mimpi atau bukan.

Fyi, Mba Yeti itu pembantu pengganti mba Lastri yang pernah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya. Tubuhnya memang gemuk, sudah kelihatan begitu sejak pertama kali datang ke kosan kami. Dia suka minum kopi tiap pagi. Sering saya ingatkan mengurangi kopi, supaya dia tidak sakit lagi seperti beberapa bulan lalu. In additional, kalo dia sakit, maka cucian dan kondisi kosan tidak berjalan seperti biasanya.

Beberapa bulan terakhir perutnya memang terlihat semakin besar. Saya tidak curiga sama sekali. Terutama setelah teman saya berkata bahwa terlalu banyak minum air es dari kulkas bisa bikin perut buncit. Dia mengingatkan mba Yeti untuk meninggalkan kebiasaannya itu, atau minimal menguranginya. Tapi mba Yeti selalu punya alasan untuk tetap melakukannya.

Seringkali saya meledek, “Mba, perutnya tuh..ngalahin orang hamil aja..” Saya bener-bener gak tahu waktu ngomong itu. Pernah juga ditanya, “Mba, hamil yaa..?” (wajar karena dia sudah punya suami). Tapi yang ditanya senyum-senyum saja. Tidak mengkonfirmasi, ataupun menyanggah.

Dan pagi ini akhirnya terungkap sudah. Ternyata perut buncit yang semakin membesar itu berisi bayi. Dan yang tidak kalah mengejutkan juga, sebagian anak kos tahu bahwa mba Yeti sedang hamil. Tapi saya tidak tahu. Terlalu polos untuk mencurigainya.

Semalam mba Yeti masih sempat menyelesaikan setumpuk setrikaan baju anak-anak. Hebat sekali, pikir saya. Selama ini dia mengerjakan tugas-tugas seperti biasanya: mencuci dan menyetrika baju 18 anak, menyapu, mengepel, menguras kamar mandi, ditambah tugas khusus dari saya dan teman saya: memasak sayur untuk makan malam. Dan bodohnya saya, selama ini tidak tahu bahwa dia sedang hamil.

Lalu mengalirlah kronologis cerita tentang persalinannya. Pukul 2 pagi mba Yeti memanggil salah satu anak kos, “Mba Wanda.. Mba Wanda..” Wanda masuk ke kamar mba Yeti. Ana juga ikut masuk karena kamarnya bersebelahan. Ana memanggil tetangga sekitar sedangkan Wanda mengawasi kondisi mba Yeti. Maklum, Wanda sudah menikah dan mempunyai seorang anak yang tinggal bersama mertuanya di Bogor. Jadi Wanda lebih tahu kondisinya dibandingkan Ana.

Singkatnya, bayi lahir tanpa kehadiran bidan karena bidan terlambat datang (atau karena mba Yeti keburu melahirkan, hehe). Mereka berdualah yang membantu persalinan mba Yeti. Bahkan tali pusar pun dipotong oleh Ana, tentu saja setelah gunting direbus dalam air panas. Tradisional tetapi tetap steril, hehe. Bukan apa-apa, masalahnya si ibu lah yang meminta tali pusar bayi supaya dipotong. Ana sendiri tidak tahu menahu bahwa tali pusar bisa menunggu dipotong oleh bidan.

Bayi pertama lahir sungsang, kakinya dulu yang keluar. Katanya, bayi pertama lahir tanpa ketuban dan tak ada darah yang keluar. Subhanallah. Setelah satu bayi keluar, mba Yeti mengeluh perutnya masih keras. Wanda meminta untuk mengejan sekali lagi, dan dengan satu kali mengejan, keluar seorang lagi bayi mungil. Sekali lagi subhanallah.

Setelah itu tetangga berdatangan, termasuk bidan. Hadeh..kenapa mesti telat sih >.< Tetangga dan bidan agak menyalahkan Ana yang berani memotong tali pusar, mengkhawatirkan penyakit tetanus yang mungkin menjangkit.

Seorang tetangga mengeluhkan bahwa mba Yeti bohong tentang usia kehamilannya. Mba Yeti bercerita bahwa kandungannya berusia 6 bulan. Tetapi melihat kondisi bayinya sekarang, tentu sudah masuk 9 bulan. Dia menyayangkan sikap mba Yeti yang terkesan sembarangan, karena main-main dengan persalinan, tidak memeriksakan ke bidan, bahkan kembar pun dia tidak tahu. Masha Allah.. saya ikut kesal juga dengan sikapnya. Bahkan baju bayi pun belum tersedia. Anak-anak kos mengumpulkan iuran untuk membantu membeli perlengkapan bayi.

Setelah meyakinkan bahwa kamar sudah bersih dari darah dan segala macam bekas pesalinan, saya mengunjungi kamarnya. Melihat dua bayi mungil itu, rasa kesal saya hilang. And these are the babies ^_^




Setelah peristiwa itu terbesit di pikiran saya bahwa keadaan seperti itu bisa saja terjadi di sekitar saya (karena buktinya benar-benar ada!). Saya tidak bisa membayangkan seandainya waktu itu saya yang dipanggil-panggil oleh mba Yeti (mending pingsan aja deh, hehe). Jadi tidak ada salahnya kita mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan jika menghadapi situasi seperti itu. Saya mencoba mengumpulkan beberapa informasi tentang pertolongan pertama pada persalinan yang saya baca dari sebuah catatan..

  1. Berusahalah untuk tenang meskipun kita sangat cemas dan tegang. Pikiran yang tenang akan mempermudah kita berpikir logis dalam menolong persalinan. Hal ini juga diperlukan sebagai dukungan moril bagi ibu yang akan melahirkan.
  2. Persalinan pertama bagi seorang   ibu perlu mendapat dukungan dan perhatian yang lebih jika dibandingkan dengan ibu yang pernah melahirkan sebelumnya.
  3. Panggil petugas medis terdekat. Atau jika memungkinkan, bawa   ibu ke rumah sakit terdekat.
  4. Jika petugas medis belum juga datang, tempatkan   ibu di tempat yang luas dan tenang. Letakkan alas sebagai tempat ibu melahirkan (baju, kain, jaket, yang penting bersih).
  5. Bantu untuk mengatur posisi  ibu dalam posisi tidur, kepala membungkuk ke arah perut, kaki di angkat terbuka dan ditekuk, paha mengarah ke bagian perut. Tangan ibu memegang lutut dengan cara tangan melingkar di bagian belakang lutut. Posisi kita berdiri atau jongkok di samping ibu.
  6. Berikan dukungan moril pada ibu. Bimbing ibu untuk menarik nafas panjang supaya dorongan untuk mengejan berkurang. Arahkan ibu untuk bernapas pendek supaya mengurangi rasa sakit persalinan.
  7. Pada saat kontraksi datang (ditandai dengan mulas yang terus menerus) minta ibu untuk mengejan hanyaselama ibu merasakan mulas. Selama mengejan jangan bernapas pendek, minta ibu untuk mengambil napas panjang dan napas dikeluarkan bersamaan dengan mengejan.
  8. Perhatikan tanda-tanda persalinan: keluar lendir darah, rasa mulas, kontraksi yang kuat dengan frekuensi waktu yang teratur (2 - 3 menit sekali). Kontraksi juga bisa diperiksa dengan meletakkan tangan di perut ibu (dinding perut ibu menegang).
  9. Jika dorongan untuk mengejan sudah tidak tertahan, periksa apakah pembukaan sudah lengkap (kepala bayi sudah terlihat). Jika kita melihat kepala bayi mulai keluar, maka inilah waktunya kita membantu proses persalinan. Bimbing  ibu untuk mengejan saat rasa mulas datang. Jika ditahan, justru akan membahayakan bayi.
  10. Darah yang keluar selama proses persalinan adalah hal yang normal. Selain itu juga akan keluar banyak cairan sebelum dan selama proses persalinan.
  11. Jika kepala sudah mulai terlihat, letakkan telapak tangan kanan kita di atas kepala janin. Tujuannya, untuk membantu kepala agar tak jatuh ke lantai.. Selama kepala meluncur keluar, telapak tangan kiri kita menyangga daerah di sekitar perineum (antara vagina dan anus). Hal ini untuk mencegah supaya kepala tidak membuat vagina robek.
  12. Terus pegangi kepala bayi hingga semua badannya keluar. Jika tali pusar ikut keluar, biarkan saja demikian. Jika tubuh bayi tidak bisa keluar, harus ditarik karena keadaan ini tidak bisa dibiarkan terus (bayi akan tercekik). Jaga jangan sampai kepala bayi meluncur keluar dan terkena benturan.
  13. Jika bayi sudah keluar, letakkan bayi di perut ibu.  Biarkan ibu tetap pada posisinya. Jika di dalam mobil mintalah sopir untuk segera menuju ke sarana kesehatan (rumah bersalin atau rumah sakit) terdekat.
  14. Biarkan plasenta dan tali pusarnya. Jangan ditarik-tarik atau dicoba dipotong menggunakan benda  sembarangan, seperti pisau atau gunting. Hal ini untuk menghindari infeksi pada bayi. Bila takut putus, ikatlah tali pusar kira-kira 5-10 cm di atas pusar bayi dengan benang. Putusnya tali pusar bisa mengakibatkan perdarahan pada ibu. Secara alamiah, begitu bayi lahir, saluran yang berhubungan dengan tali pusar akan tertutup.Tetapi bisa saja terjadi sebaliknya, bila ternyata pada bayi terjadi kelainan atau tak terjadi penutupan, maka perdarahan pun bisa terjadi pada bayi. Karena itu yang terbaik adalah biarkan saja sampai petugas medis datang atau segera bawa ibu dan bayi ke rumah sakit.
  15. Saat bayi sudah keluar, selimuti dengan selimut atau handuk tebal atau baju atau jaket. JIka tidak diselimuti, bayi mudah mengalami kedinginan. Jika ada lampu, dekatkan lampu ke tubuh bayi untuk menjaga kehangatan.
  16. Jika punya cukup nyali, bersihkan mulut bayi dengan tangan yang dilapisi kasa steril, usapkan dengan lembut. Jangan menggunakan kapas atau tisu karena justru bisa menyumbat jalan napas si bayi. Hal ini bertujuan agar jalan nafas bayi bersih. Namun jika tidak punya alat penyedot, sebaiknya biarkan saja.
  17. Jika tidak punya cukup nyali, asalkan bayi sudah menangis, akan baik-baik saja tanpa dibersihkan sekalipun.

Semoga berguna.

Monday, April 30, 2012

(entah) Andri (siapa)


Seperti biasa, hari ini saya berangkat ke kantor naik Kopaja. Tak ada yang istimewa pada perjalanan saya kali ini. Seperti biasa, Kopaja melaju kencang kecuali saat macet karena terburu-buru mengejar penumpang atau karena ada Kopaja lain yang membuntuti di belakangnya. Strategi mengejar setoran, pikir saya.

Belum sampai sejenak saya berpikir demikian, tiba-tiba naik seorang remaja laki-laki berkulit gelap. Dia berseragam SMA, tapi tanpa mengenakan bed identitas sekolah. Membawa tas selempang hitam yang sudah lusuh, entah apakah di dalamnya ada buku atau perlengkapan sekolah lainnya. Dia memakai sepatu hitam, bertali, tanpa memakai kaos kaki. Meski demikian, penampilannya termasuk kurang rapi untuk disebut sebagai anak sekolah.

Tanpa menunggu lama, dia membagikan amplop kepada penumpang. Amplop itu bertuliskan pesan seperti ini:

“Assalamualaikum Wr. Wb.
Mohon maaf kepada Bapak Ibu, Kakak
Kami sebagian dari anak bangsa yang kurang mampu membutuhkan uluran tangan sertabantuan untuk biaya sekolah dari Bapak/Ibu/Kakak, dan atas bantuannya kami hanya bisa berdo’a semoga Allah SWT akan membalas budi Bapak /Ibu/Kakak amin ya robbal alamin. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasihatas kerelaan dan keikhlasan Bapak/Ibu/Kakak.
Andri - SMK”
Di sisi belakang amplop itu, terdapat stempel “SMK Boedoet 1 – Jakarta Pusat”

Sembari membagikan amplop, si Andri berkata:
“Ya permisi Bapak/Ibu/Kakak, minta bantuannya untuk biaya sekolah ya Bapak/Ibu/Kakak, besok sudah tanggal satu ya, buat bayar sekolah, sekolah mahal Bu.”

Dia berkata sedikit kasar, menurut saya. Kontras sekali dengan tulisan di amplop itu yang terkesan penuh sopan santun. Setelah selesai membagkan amplop itu, dia mengeluarkan seruling modern. Dia meniupnya, memainkan lagu entah apa. Meski saya suka mendengarkan musik, saya tidak bisa memahami lagu apa yang dia mainkan. Selesai “bertugas”, dia menarik kembali amplop-amplop itu sembari berkata seperti waktu membagikannya.

Saya tentu saja kebagian amplop itu. Saya bahkan sudah tidak asing dengan “pertunjukan” barusan. Saya sudah hafal betul dengan wajah anak itu. Sudah sering saya melihatnya di Kopaja pagi hari dalam perjalanan ke kantor. Awalnya saya menaruh sedikit simpati. Namun, ketika kata-katanya terdengar semakin kasar di telinga saya, saya menjadi tidak simpati lagi.

Saya tak mengerti, apakah memang amplop itu resmi dari pihak sekolah? Kalau memang si Andri itu siswa di SMK tersebut, apakah tidak ada cara lain yang lebih baik? Kalau memang benar dia bersekolah, kenapa justru pada jam sekolah dia berada di Kopaja?

Beberapa waktu lalu, menuruti rasa penasaran saya, saya coba menelusuri nama sekolah yang saya temukan di amplop remaja itu. Saya menemukannya di website, namun tidak berhasil menemukan kontak yang bisa memberikan informasi.

Bukan berarti saya setuju dengan hitung-hitungan jika akan memberikan bantuan. Akan tetapi, menurut saya, akan lebih bijak jika kita tahu ke mana dana kita akan disalurkan. Memberi memang kewajiban, akan tetapi kita juga punya kewajiban untuk ikut membangun masyarakat. Saya akan lebih merasa tenang jika mengetahui penyaluran bantuan yang saya berikan, apalagi jika dapat memberikan pengaruh jangka panjang.

Oh ya, hari ini saya berhasil mencuri gambar amplop itu.


(kemarin, di Kopaja 66)